J.u.a.l.a.n
Memasuki babak (cobaan) baru setelah memutuskan resign dari kantor saya beberapa waktu lalu, saya mencoba berdagang alias jualan.
Sebetulnya pada dasarnya memang saya senang jualan. Inget jaman kuliah dulu (saat SKS udah tinggal dikit dan sedang mulai nyusun thesis), saya memutuskan untuk coba2 ngajar bahasa inggris private untuk anak-anak SD. Mulailah saat itu saya coba bikin brosur sekedarnya, nulis isi brosur (dalam bahasa inggris sederhana), mengetik dan mencetaknya dengan kertas warna warni. Besoknya langsung saya sebar di komplek rumah saya dan beberapa sekolah dasar swasta di deket rumah. Alhamdulillah 3 hari kemudian ada yang merespon. Meskipun murid pertama saya saat itu hanya 5 orang di rumah (ibu) saya, tapi buat saya anugerah luar biasa, dan saat itulah saya mulai menyadari bahwa sebetulnya saya berbakat jualan. Dari mulut ke mulut akhirnya murid saya bertambah 3 orang (private di rumahnya) dan kegiatan mengajar anak-anak (kecintaan saya lainnya) bertahan sampai saya diterima bekerja seusai wisuda (kurang lebih 1 tahun).
Saat kerja di salah satu bank swasta, naluri bisnis (jualan) saya juga terus berkembang. Mulai dari yang menggunakan modal (sedikit) sendiri seperti tupperware sampai "meneruskan" hasil dagangan orang lain. Misal : penjual sprei di kantor senang sekali saya bantu tawarkan dagangannya dengan imbalan fee Rp. 5.000/sprei. Karena lokasi kerja di gedung yang terdiri dari grup perusahaan, ada aja pegawai kantor lain di satu grup/gedung yang menawarkan dagangannya, mulai dari panty, frozen food, pakaian, buku, sampe saham dalam jumlah kecil…hehehe.. dll. Walhasil saya coba tawarkan lagi ke karyawan lain, tentunya dengan menaikkan sedikit harganya. Senang rasanya kalau barang yang kita tawarkan laris manis. Dari usaha kecil ini saya sampai mempunyai account tabungan khusus, alhamdulillah.
Awalnya saya bersama sahabat SMA berencana membuat tas dari bahan/kain tradisional Indonesia. Dan kemudian berkembang juga menjual baju-baju batik dengan motif batik modern/gaul untuk dewasa dan anak-anak. Alhamdulillah berkembang cukup baik. Ada beberapa pesanan tas dan juga baju batik.
Namun karena kondisi saya saat ini yang tidak memungkinkan dan agar dapat lebih fokus, baik ke bisnis maupun mengurus suami dan anak-anak, sekarang saya lebih berkonsentrasi berjualan baju anak-anak branded sisa ekspor/FO kecil-kecilan.
Kami memiliki stand di Pasar kaget hari Minggu di area kampus STEKPI (kalibata). Alhamdulillah hari pertama menggelar dagangan saya memperoleh omset Rp. 435.000,-. Buat orang lain mungkin sedikit, tetapi untuk kami angka sebesar itu cukup lumayan dan membuktikan bahwa barang/baju2 yang kami jual diminati oleh konsumen.Setelah itu rata2 omset baju FO saya berkisar antara 500 rb - 1,2 juta per hari (kira2 10-20 potong baju). Alhamdulillah kami sudah memiliki beberapa pelanggan tetap di lapak sederhana kami itu.
Selain di STEKPI, pada hari kerja saya juga melakukan door to door ke kantor2/perusahaan di area jakarta selatan. Dengan kualitas barang branded/sisa ekspor dan harga yang saya jual relatif murah, dalam satu hari saya dapat melakukan transaksi penjualan sampai dengan Rp. 800.000,-/ kantor, bahkan pernah mendapat Rp.1.025.000,-.Selain melakukan penjualan direct langsung, saya juga coba menjalin hubungan dengan salah satu karyawan di kantor2 tersebut dengan sistem titip jual dengan imbalan fee. Keuntungan berjualan di kantor antara lain, kepastian membayar, ibu-ibu kantor mostly "laper mata" kalau lihat baju untuk anak2, nggak pake ditawar alias money doesn’t matter (lagian emang udah murah).
Hanya saja ada beberapa kendala berjualan di kantor, antara lain:
1. Hanya dapat dilakukan pada jam istirahat dan/atau sore menjelang pulang (jam 4an).
2. Kalau dijual pada tanggal muda (antara tgl 25-30) bisa cash basis, tetapi diluar tanggal tersebut rata2 ingin bayar pas gajian, yang tentunya menghambat perputaran modal.
3. Agak sulit memprediksi stok baju apa yang dibawa karena setiap kantor memiliki market sendiri2 (ada yang banyakan punya anak perempuan, ada yang anak laki, ada yang anaknya sudah besar2/masih kecil), sehingga pada awalnya saya masih meraba2 dan spekulasi dengan stok barang bawaan.
4. Agak sulit melakukan repeat order karena konsumen tidak akan membeli barang yang sama, bukan? Dan itu artinya saya harus pandai-pandai mencari jaring market yang baru. Atau mencari stok baru, yang agak sulit direalisasikan karena berkenaan dengan penambahan/perputaran modal.
Alhamdulillah sampai ini masih berjalan dengan lancar. Saya lebih memilih untuk memperbanyak item barang tetapi dengan quantity sedikit, dibandingkan menyetok banyak barang untuk 1 item. Omset rata-rata mencapai Rp. 10 - 15 juta/bulan. Namun kendala terberat yang saya hadapi adalah modal. Modal saya masih terbilang kecil sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Cita-cita saya ingin sekali memiliki 1 outlet kecil di pasar/ITC/mall…hehee.. Mudah-mudahan niat baik ini diridhoi Allah SWT. Amiin..