Thu 18th Sep, 2008, Daily, in Holy Qur'an

Rindu padaMU …

Ya Allah, rindu ini rindu padaMu…

Rindu ingin bersimpuh dihadapanMu…

Rindu yang dalam, bergetar, teramat dalam…

Karena aku hina, aku dzalim, aku lemah, ya Allah…

Ijinkan aku menemuiMu, ya Rabb… Ijinkan aku memelukMu …

Bermunajat, mengucap syukur, bertobat, merengkuh rahmatMu, menggapai ampunanMu, merangkulMu … 

Betapa banyak dosaku, betapa hinanya aku, betapa imanku naik dan turun, betapa kerdilnya aku…

Aku malu, ya Allah.. aku tidak pantas Engkau beri anugerah semua ini, tidak pantas Kau rahmati aku sedemikian ini…

Wahai Engkau Maha Pemberi, Maha Pengampun, terimalah tobatku, terimalah hajatku, ya Rabb…

Ijinkan aku menjadi pelayanMu, berkorban hanya untukMu, berjalan di jalanMu… 

Perkenankan aku menemuiMu, tunjukkan aku jalan kehadapanMu…

berkahilah aku dengan rejekiMu yang halal, rahmatilah aku agar …

agar aku bisa menumpahkan rindu ini.. mewujudkan niat ini, mimpi ini…

Perkenankan aku pergi haji, ya Rabb… MenemuiMu di al Mukkaromah…

Tunjukkanlah jalanMu… Engkaulah yang Maha Tahu yang terbaik untukku…

Ya Allah, rindu ini, rindu padaMu… rinduku untuk berhaji…

" Laa ilaaha illa anta ya muqollibal quluubi tsabbit qolbi ‘alaa diinika wa ‘alaa thoo’atika subhanaka inni kuntu minadzdzolimiin "

(Tiada Tuhan selain Allah yang membolak-balikkan hati (qalbu), maka tentukanlah (tetapkan) hati kami pada agamamu dan menjadi hambaMu yang taat. Maha Suci Engkau ya Allah, dan aku termasuk orang-orang yang aniaya (dzalim))

 

 

 

 

Fri 5th Sep, 2008, Daily, their career

Be a smart worker

Hari gini, sudah tidak zamannya lagi menjadi hard worker alias pekerja keras. Jika ingin sukses, jadilah smart worker.

Apa yang memotivasi Anda dalam bekerja? Punya mobil bagus, rumah sendiri atau membeli barang-barang yang membuat Anda tampil gaya? Apa pun itu, yang pasti untuk mencapainya Anda rela bekerja mati-matian.

Bahkan sampai lupa waktu, lupa makan dan akhirnya terperangkap dalam pekerjaan yang lama-lama mungkin tak Anda nikmati lagi. Namun, apakah kerja keras dan pengorbanan Anda sepadan dengan hasil yang didapat? Jika jawabannya tidak, berhentilah menjadi hard worker. Percuma Anda bekerja keras kalau tidak juga ada hasilnya.

Hard Worker = Tidak Efisien
Dulu, menjadi hard worker memang salah satu cara terbaik untuk mendapatkan perhatian atasan. Anda bisa mendapatkan promosi atau kenaikan jabatan (yang biasanya disertai kenaikan gaji) jika menjadi hard worker. Dengan catatan, kerja keras ini memang ada hasilnya dan bukan sekadar mencari uang lembur di kantor.

Namun, belakangan cara ini tak lagi populer. Apalagi di zaman serba hemat seperti saat ini. Menjadi hard worker yang identik dengan berada lebih lama di kantor dianggap tidak lagi efisien dan suatu pemborosan. Penambahan jam kerja, juga bisa membuat Anda dinilai tak punya manajemen kerja yang baik sehingga tak bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Kalau begitu keadaannya, sudah waktunya Anda mengubah cara kerja.

Be Smart Worker
Daripada menghabiskan seluruh waktu di kantor tapi malah dipandang negatif, mengapa tidak mencoba lebih efisien dan bekerja lebih smart? Dan, untuk menjadi smart worker tidak susah, kok. Anda hanya perlu bekerja sambil berpikir dan berprinsip, bagaimana agar pekerjaan bisa dikerjakan lebih cepat dan lebih fleksibel.

Kalau boleh sedikit membandingkan, sebagian besar negara Eropa dan Amerika sudah menerapkan prinsip smart worker ini. Contohnya, Italia yang sudah memberlakukan jam kerja rata-rata hanya 5 jam sehari. Asyik, kan? Selain punya lebih banyak waktu untuk menikmati hidup, Anda juga punya waktu jika ingin mencari penghasilan tambahan alias side job. Nah, untuk menjadi smart worker, Anda harus punya strategi kerja. Di antaranya:

1. Anda bisa memulainya dengan mencoba memusatkan perhatian pada pekerjaan. Kurangi hal-hal yang bisa mengalihkan perhatian, seperti ngobrol atau bergosip dengan rekan kerja terlalu lama (baik langsung, via telp atau sarana chatting), jauhkan katalog dan bahan bacaan pribadi dari wilayah kerja, dan lain sebagainya. Untuk hal-hal seperti itu, ada waktunya sendiri setelah jam kerja usai.

2. Hindari menunda-nunda pekerjaan dan cobalah mengerjakannya dengan sistem multitasking. Dengan cara ini, Anda bisa mengerjakan dua atau tiga tugas sekaligus sehingga bisa lebih menghemat waktu.

3. Untuk memudahkan, gunakan teknologi secara bijak. Misalnya, gunakan telepon dan internet seperlunya, apalagi jika pekerjaan Anda sedang menumpuk. Manfaatkan teknologi tersebut untuk mempercepat selesainya tugas-tugas Anda.

Dengan mengoptimalkan waktu kerja, Anda tak hanya menjadi lebih efisien tapi juga lebih produktif. Bukan mustahil dengan semakin sederhana kehidupan kerja dan semakin sedikit waktu kerja kita, semakin besar penghasilan yang kita peroleh.

(Ditulis oleh Erma Dwi Kusumastuti - dikutip dari Kompas edisi 5 Sept’08)

Tue 2nd Sep, 2008, Daily, healthy inside

Bike to work

Sudah satu minggu belakangan ini saya bersepeda ke kantor. Bermula dari acara "Festival Kemang" di sepanjang Jl. kemang raya yang saya kunjungi beberapa waktu lalu, kami (saya dan suami) tertarik dengan 1 outlet "Bike to work" (b2w). Akhirnya kami terlibat percakapan panjang lebar dengan team b2w disana. Cowok-cowok jawa itu seru-seru banget, orangnya kocak-kocak, asiklah pokoknya. Mereka juga ngerelain folding bike yang biasa mereka pake jadi sasaran percobaan kami. Mereka juga memamerkan satu halaman parkir yang disulap mendadak jadi "showroom" sepeda. Weeiiiiss… ternyata banyak modelnya, dari yang besar sampai yang kecil dengan spesifikasi yang berbeda… daaan.. jelas dengan harga yang berbeda pula *ngernyitin jidat pas tau harganya*. Oiya, kebetulan adik ipar saya juga berniat b2w, jadinya kami bertiga terlibat dalam persekongkolan b2w malam itu. Sepeda yang jadi incaran kami adalah ‘d — n’, folding bike, light banget and warnanya sooo colorful. Finally di rumah kami terlibat diskusi in bedtime. Entah terkesan dengan gerombolan cowok-cowok jawir seru itu, atau tertarik dengan warna/i sepeda d — n itu, atau tergerak hati untuk ikutan "go green" either komunitas b2w, akhirnya kita sepakat untuk gabung. Awalnya kami memutuskan suami yang duluan bersepeda. Tapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami memutuskan bahwa saya yang akan mulai bersepeda.

Alasannya, kantor saya lebih deketan.. halaah. Kedua, nggak sanggup beli sepeda langsung dua…hehhee… Ketiga, bersepeda dalam konteks menyehatkan paru-paru lebih dibutuhkan oleh saya daripada suami, at least untuk saat ini… hhmmm.. no explanation for this. Keempat, gak cuma nyehatin paru-paru juga sih, intinya saya emang jarang olahraga (kalo bisa disebut olahraga saya cuma jalan kaki dari rumah ke perdatam kira2 300 mtr pp setiap hari + olahraga "lain" di tempat tidur on a regular basis… wekekekek…), jadi dengan bersepeda setiap hari selama 20 menitan / kurang lebih 3 km paling enggak saya udah memenuhi nasehat para dokter untuk menjaga kesehatan dengan rutin berolahraga.

Sayangnya setelah cek sana sini, ternyata si d — n ini masih sulit dicari, lagipula harganya belum masuk budget kami. Sempat pesimis awalnya, tapi Alhamdulillah Allah kasih petunjuk bahwa ada folding bike merek lain yang lebih murah dengan kualitas sama. Jadilah fodling bike "u —- d" itu kami bawa pulang. Putih strip kuning, ditambah penambahan multi speed (standarnya hanya single speed) plus helmet. Harganya hanya 1/3 harga d — n, sebetulnya kalau suami mau bisa saja dia ambil juga. Tapi ternyata ia (dan adik ipar) saya itu sudah janjian mau siap nabung/cicil untuk (tetetuup) beli d — n.

Mulailah saya bersepeda ke kantor, nggak lewat jalur jalan raya ps.minggu/kalibata yang ramai, tapi lewat perdatam-komp.DPR yang lebih aman. Seru jugalah, enak juga ternyata. Lebih enak lagi kalau berangkat lebih pagi sekitar jam 7 karena selain udaranya lebih sejuk, belum banyak kendaraan (polusi-less) plus masih bisa liat kanan kiri/pemandangan sekitar. Liat-liat model rumah-rumah di sekitar perdatam yang bagus2, liat tukang jajanan disepanjang jalan (kalo tertarik, mampir beli buat di kantor) or sambil ngapalin tempat2 tambal ban (jaga-jaga kalo ban kempes.. hhhmm.. moga2 sih enggak), sambil nyari2 korwil b2w di daerah kalibata (sampai sekarang belum nemu-nemu). Ada aja pengalaman seru sepanjang jalan, yang didadahin sama cowok bersepeda juga (mungkin dia merasa sekomunitas, padahal saya belum sempat memakai atribut b2w…hehhee..). Sempat juga agak cemas ketika satu hari kudu pulang malam. Secara belum sempat pasang lampu sepeda. Atau lain harinya ketika hujan turun pas pulang kantor, belum sempat juga sedia jas hujan… halaahh…

Di kantor sepeda saya langsung dilipat, simpan di ruangan dekat meja kerja. Soalnya area parkir kantor saya lumayan semrawut, agak jorok and gak secure parking. Halaahh.. biarpun cuma sepeda, tapi kalo ilang diembat orang, rasanya nyesek jugalah. Lagipula, ngapain bela-belain beli folding bike kalo akhirnya nggak dilipet… heehhehee..

So, puasa ini break dulu. Takut dehidrasi. Lagian puasa kan wajib, bersepeda kan sunnah. Insya Allah nanti abis lebaran, mulai working by bike…..