Mon 27th Nov, 2006, Daily

Our 10th Anniversary

28 November, 10 years ago…

Usia saya saat itu 25 tahun, sedang meniti karir di salah satu bank swasta devisa, ketika tiba-tiba suatu malam [mantan] pacar saya, Daus,  yang telah bekerja juga di salah satu perusahaan otomotif, tiba-tiba berbicara serius mengenai keinginannya untuk menikahi saya. Kami memang sudah berpacaran selama 4 tahun, sejak kuliah di FE-UP [Daus adalah kakak kelas saya, selisih usia kami 2 tahun]. Pendek cerita, akhirnya kami menikah di Mesjid Al-Azhar Jakarta Selatan. Kemudian esoknya diadakan resepsi sederhana di salah satu gedung di Jakarta Selatan, dengan campuran adat Aceh dan Minang.

9 April 1999

Setelah 1,9 th usia perkawinan kami, barulah saya dinyatakan positif hamil. Pada tahun ke-3 akhirnya kami diberi anugerah anak pertama. Ia laki-laki, lahir di RS. Asih - Kebayoran JakSel, secara normal, berat 2,6 kg panjang 48 cm. Kami beri nama : Farhan Andafa. Farhan artinya bijaksana, cheerful (ternyata Alhamdulillah emang beneran periang anaknya). Andafa : he..he.. singkatan ANak DAus FArina (takut nggak diakuin..).

12 Mei 2004

Lahir anak kedua kami. Alhamdulillah, kali ini perempuan, lahir di RS. Asih juga, secara normal juga, berat 2,4 kg panjang 47 cm. Wanita mungil ini kami namakan : Farrel Andana. Awalnya saya hanya senang menyebut farrel..farrel.. so cute aja, tanpa tahu artinya. Belakangan baru saya tahu bahwa Farrel artinya adalah pemberani, dan mostly diberikan kepada anak laki-laki (teman sekelas Farhan anak saya ada yang namanya Farrel, lalu anaknya Wijil teman kantor saya juga namanya Farrel dan sekali lagi, laki-laki juga..:)). Dan he..he.. anak saya ini ternyata beneran emang pemberani, biar perempuan tapi dia lebih pemberani dibandingkan kakaknya. Andana : ya, lagi-lagi ANak DAus riNA..(masih ngak percaya diri …).

*****

[ flashback ]

Pastilah sudah banyak sekali asam garam, suka duka, nikmat cobaan, ketawa tangis, mewarnai 10 tahun pernikahan kami ini. Sempat pada saat yang sama (tahun 1997), kedua bank swasta tempat kami mencari nafkah dilikuidasi, sehingga kami berdua jobless..he..he.. Untungnya bank tempat saya bekerja dilanjutkan lagi operasionalnya setelah dilakukan perubahan nama, dan selama 2 tahun sayalah yang menjadi tulang punggung keluarga. Sempat punya mobil pribadi, tapi kemudian kami jual karena untuk menambah uang muka beli rumah. Kami sempat memiliki dan tinggal mandiri di rumah mungil hasil keringat kami (sebagian hasil jual mobil kami gunakan untuk renovasi), di daerah Pekayon-Bekasi Barat selama 4 tahun, tapi karena lokasinya beberapa kali disinggahi oleh banjir..he..he.., kami terpaksa menjualnya. Dan sejak kelahiran anak kedua tahun 2004 kami sekeluarga kembali ke rumah orang tua (Pondok Mertua Indah) di Pancoran-JakSel. Impian untuk punya rumah sendiri lagi belum bisa tercapai saat ini..hiks..hiks.. Tapi ya sudahlah…

Kemudian bergantianlah, ketika bank tempat saya bekerja dilikuidasi untuk kedua kalinya, Abanglah yang bekerja sendiri. Dengan penghasilannya yang tidak seberapa, dan jarak tempuh kantor yang jauh di Cengkareng sana, saat itu saya harus pandai-pandai mengatur pengeluaran. Kami tidak mampu menggaji pembantu, sehingga sayalah yang bertanggungjawab mengurus rumah dan anak. Saya juga harus menghemat menu makanan sehari-hari dengan berlangganan catering Rp.12.000,-/hari, lauk itu harus kami hemat untuk sehari semalam untuk 3 orang. Demi menghemat ongkos transport, Abang rela berjalan kaki keluar/kedalam komplek rumah kami (jarak dari rumah ke pinggir jalan besar tempat angkot kurang lebih 500m, sehingga biasanya naik becak).

Alhamdulillah, setahun kemudian saya mulai mendapatkan pekerjaan lagi. Sempat juga tahun 2003 abang memutuskan untuk keluar dari perusahaan tempatnya bekerja karena sesuatu hal dan vakum untuk waktu sekitar 6 bulan, sebelum akhirnya dia mendapatkan pekerjaan lain.

***** 

It really needs both sides [to build a strong-unbreakable marriage]  

Terkadang kita dihadapkan kepada sebuah pilihan, sebuah keputusan, yang semuanya membutuhkan kesamaan visi, kekompakan kedua belah pihak. Buat saya, perkawinan adalah suatu tujuan. Saya dan Daus, sudah pasti dua kutub yang berbeda. Beda karakter, beda latar belakang, beda pola asuh orang tua (kebetulan Daus adalah anak tunggal), mungkin juga ada beda prinsip hidup. Dan untuk mengubahnya adalah suatu hal yang pastilah mustahil. Jadi dibutuhkan kebesaran hati, kerelaan hati and a very wide excuses to accept them (even sometimes hurt), to adjust (even harder), to fulfill… Jadi ketika salah satu menyerah, saya yakin kita nggak akan pernah mencapai tujuan awal kita. Saya hanya bisa berharap, saya dan Daus masih bisa dan akan selalu terus satu kata, satu visi dan mudah-mudahan kami diberi usia panjang untuk meneruskan tujuan perkawinan kami ini.

Communicate, appreciate and humour… :)

People change ! Sedahsyat apapun usaha kita untuk menjaga perkawinan, namun kadangkala ada faktor X, Y dst yang bisa saja akhirnya mengubah seseorang. Kadangkala saya khawatir ini terjadi juga pada kami. Saya selalu berusaha menjaganya melalui intensitas komunikasi dengan suami dan anak-anak. Kapanpun, dimanapun, dalam situasi apapun. Meskipun kadangkala saya sangat ingin menerapkan persamaan gender dalam rumah tangga kami, tapi ternyata saya harus dihadapkan pada kenyataan bahwa memang appreciate, penghormatan, menghargai, menghormati, pride (terlebih untuk kaum lelaki) adalah sangat penting, diatas segalanya. Jadi saya berusaha (meskipun kadangkala berat, karena saya juga merasa berhak untuk diappreciate karena sayapun melakukan tugas & tgg jawab suami..he..he.. feminis banget sih saya..) untuk sedapat mungkin tidak menyinggung harga dirinya, menjaga rahasianya, selalu support dibelakangnya. Dan humour, ya humour. Humourlah yang buat saya menjadi penyelamat perkawinan kami selama ini. Ia selalu ada dan hadir dalam rutinitas kehidupan kami sekeluarga. Humor itu nggak susah, mudah, murah lagi,.. ya kan.. !? Alhamdulillah saya dianugerahi seorang suami yang sangat humoris, easy going, and sooo ekstrovert. Demikian juga anak-anak saya, mereka periang, pembanyol juga… Alhamdulillah.

Enriching love and caring

Katanya, cinta itu bisa layu bila nggak disiram. Sentuhan kecil seperti mengusap, membelai, berpelukan, tersenyum (meskipun senyum saya mahal, kata si Abang..he..he..), mencium, menggaruk-garuk punggung (Abang paling senang digarukin punggungnya), bikinin teh manis setiap pagi sampai sekarang, ninggalin pesen-pesen/note lucu di white board kamar untuk abang or anak-anak, berenang sekeluarga sebulan sekali di Citos, sesekali masakin untuk mereka (sesekali..? plis deh, ketauan nggak pinter masak). Dan yang paling penting, juga paling enak..he..he.. having sex regularly… *psssttt, itu kan sunnah Rasul*.

Lillahi Ta’ala

And at the end, saya harus mengikhlaskannya pada Allah semata. Suami saya, kedua anak saya adalah kepunyaan Allah semata, Mereka semua adalah anugerah yang diberikan Allah untuk saya, mereka semua juga menjadi cobaan buat saya, dan yang nggak bisa diingkari adalah bahwa mereka hanyalah titipan Allah, yang kapanpun DIA mau, Dia bisa ambil. Sebesar apapun saya mencintai mereka, seberapa besarpun pengorbanan saya kepada mereka, seberat apapun usaha saya untuk menjaga mereka, tetapi Allah lah yang memiliki mereka. DIA bisa lakukan apa saja, kepada mereka, kepada perkawinan kami juga. Jadi saya selalu berusaha ikhlas dan pasrah kepadaNya…  

*****

Dearest Abang / Ayah Daus : thanks a lot for standing beside me, really beside me all of these years. Thanks so much for loving me, accept me as I am..he..he.. Thanks to you too for being such a wonderful caring, listening and giving husband.  I really adore you as my friend, my brother, my lover, my "enemy" when we’re under the blanket *wink*, my best secret keeper, my best problem solver…

Dearest Dafa and Rerel : thanks to you too for being wonderful, sweet, lovely kids. I really, really, really love you, always love you.. forever. Muah..muah.. *do u wanna have little brother/sister ? cause I do, honey…*

Fri 24th Nov, 2006, Daily

KUNCI ZUHUD

   Aku tahu, rizkiku tak mungkin diambil orang lain,

Karenanya, hatiku tenang

 
Aku tahu, amal-amalku tak mungkin

dilakukan orang lain

Maka, aku sibukkan diriku untuk beramal

 

Aku tahu,  Allah selalu melihatku,

Karenanya, aku malu bila Allah mendapatiku

melakukan maksiat

 

Aku tahu, kematian menantiku,

Maka, kupersiapkan bekal untuk

berjumpa dengan Rabbku

 

 

**********

Thu 16th Nov, 2006, in Holy Qur'an

A brand new me :)

Alhamdulillah, I finally did. After almost of a year. Coba baca deh, postingan saya yang judulnya "Being hit to the wall - click bulan August 2006" disitulah awal mula saya merasakan semua ini, semua jedutan ini. But i was being sooo.. so stubborn, tambeng, tekak, keras kepala and kept denying..he..he… Tapi anehnya makin deny, makin lost. Makin nunda-nunda, makin kepanggil. Makin saya kabur, malah makin ditunjukin. Makin cuek, keinginannya malah makin kuat. Hhmmm… it was really amaze me.

Yang udah-udah saya sholat tahajud cuma kalo lagi pas ada maunya aja. Lalu baca qur’an kalo lagi pas dateng pengajian di TPA anak saya + kalo lagi dateng bulan Ramadhan.. he..he.. Sharing dengan teman-teman yang sudah berjilbab maupun teman2 yang pasangannya sudah berjilbab beberapa kali saya lakukan, ingin tahu motivasi/reason apa yang mendorong mereka memakai jilbab, yang ternyata bermacam-macam jawabannya. Dan itu juga tetap nggak berhasil mempengaruhi diri saya untuk berubah *orang dibilangin stubborn, ya gimana donk*. Even suatu ketika sobat kantor saya, laki-laki, yang jadi salah satu gacoan saya di kantor *blink*, yang kebetulan isterinya berjilbab berkata bahwa jilbab itu memang wajib untuk wanita, saya malah menjawabnya dengan : " Aduuuh Rief, gimana donk rief. Tapi kan entar kalo gue jilbaban, gue nggak bisa jalan sambil gelendotan lagi ama elo Rief, trus elo gak bisa mijitin pundak gue juga kan Rief" he..he.. emang dasar gila kan…

Sampai puncaknya selama 2 minggu terakhir kemarin ini. Setiap malam, terutama seminggu terakhir itu, saya tiba-tiba selalu "dibangunkan" untuk sholat, lalu seolah-olah "diguide" untuk membuka Al Qur’an & tafsirnya, dan juga "didirect" untuk membaca surat-surat yang bercerita tentang hijab (An-Nur & Al-Ahzab). Subhanallah… Dan nggak tau kenapa saya makin tambah asyik juga membaca surat-surat lainnya. Tentang orang tua, tentang wanita, tentang isteri & hubungannya dengan suami, tiba-tiba saya ingin tahu banyak hal. Ingin tahu segalanya, based on Holy Qur’an. Dan seperti yang kamu semua bisa tebak, produksi air mata saya nggak bisa berhenti. Ya, saya nangis sejadi-jadinya, keep crying, and crying, sampai tiba-tiba saya dengar adzan subuh, saya baru sadar bahwa saya sudah menghabiskan waktu sangat lama, karena sudah sejak jam 1 dinihari saya duduk diatas sajadah saya..he..he…*koq bisa betah gitu yach*. Dan itu terjadi hampir setiap malam, selama 2 minggu itu. Wow, still, it was really amaze me.

Tiba-tiba saya merasa sangat hina. Saaaangaaat hina. Tidak berharga sama sekali di hadapan Allah. Sangat sombong. Angkuh. Kerdil. Saya merasa amat malu. Padahal sudah sebegitu besar nikmat yang Allah berikan dan saya rasakan, nikmat punya orang tua, nikmat suami, nikmat anak, nikmat sehat, bisa makan, masih bisa bekerja, melihat, mendengar dan beribu2 nikmat lainnya, tapi saya sebegitu sombongnya untuk bersyukur, sedemikian angkuhnya untuk mematuhi perintahNya dalam berhijab. Saya juga merasa sangat takut. Tidak hanya takut atas segala dosa dan kesalahan saya selama ini. Tapi saya amat takut jika Allah murka, saya takut jika saya tidak mendapatkan ridhoNya dan lain lain perasaaan yang campur aduk nggak karuan… *sambil teteup asyik-asyik nangis, cengeng, istighfar*

Dan sejak malam terakhir itulah, saya langsung bertekad, saya ingin sekali Allah meridhoi setiap langkah saya, saya rela & ingin berkorban segalanya demi Allah semata, saya merasa nggak perduli lagi dengan kehidupan dunia ini, saya ingin sekali menjadi anak shalihah bagi kedua orang tua saya dan memulainya dengan mematuhi perintahnya seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an untuk memakai jilbab.

Saturday, 11-11-06…

That’s a really most beautiful, sunny day for me. Itulah hari pertama saya mengenakan hijab. I feel sooooo relieve, so cool, so peace.. Daa…daaa..daaa… Then i keep singing, and singing, and smiling,and smiling… :) Pagi itu, seperti biasanya setiap Sabtu, saya melangkah keluar rumah untuk mengikuti pengajian, lalu setelahnya saya menuju ke Pasar Festival untuk berhalal bihalal dengan teman-teman ex Bank ————-, tempat saya bekerja dulu. Hhhmmm.. how beautiful, that day.

Comment suami, anak-anak, maupun teman-teman saya merupakan bumbu-bumbu indah lainya dalam keputusan saya ini. Simak donk :

Beloved husband : waduuh, cantiknyaa… Yang penting pake jilbabnya yang rapi ya Nda (biasa deh, gue suka asal2an), trus sikapnya juga ngikutin, yang nggak bagus dibuang jauh2…he..he.. *thank u, yah..*

Dafa, anak sulung saya : Bunda sekarang lain lho, tapi koq jadi nggak kayak anak gaul lagi sih Nda…*blink* Nggak nahaaann..!!

Papa & mama  : No comment… *mungkin dalam hatinya, akhirnya nyadar juga nih..hihihi..*

Bapak & Ibu saya + kakak & adik saya : belum tahu, karena saya belum sempat ke rumah ibu saya & ketemuan dg yg lainnya…

Sobat Saga : yang satu langsung nemenin saya cari kerudung untuk ngantor, yang satunya lagi menanyakan lagi kesungguhan saya, yang satunya lagi ketika saya bercerita bahwa saya dibangunkan setiap malam ia berkomentar : lha Rin, gue juga suka kebangun malem-malem lho. Gue pikir gue emang lagi kebangun n’ gak bisa tidur lagi, Rin..he..he..*Lha elo gak tau apa kalo gue juga biasanya ngerasa sama kayak elo gitu doank,..he..he.. tunggu deh sampe entar elo beneran kejedot…dot..dot..he..he..*.

Temen-temen ex Bank ———— : mereka semua, terutama cewe2nya makin gaya, makin keren n’ cantik, malah ada yang rambutnya dicat merah *hai, tante Elisa*. Dan begitu ketemu saya, mereka langsung pada berteriak : hhaaaaaahhhh, Rinaaa..!! *tapi gue teteup nyablak kan, mbak Wisdha??*, dan yang ada saya malah disuruh menjadi koordinator untuk acara nginep rame-rame di Puncak bulan depan..he..he..

Temen-temen kantor :macem-macem, speechles, heboh..he..he.. Teteh, Adis, Puteri, Aas : Selamat ya, Rin *sementara saya bingung selamat apa nih??*; Diway & Sari : mbak/uni Rina, aduuh Alhamdulillah, mudah2an istiqomah ya *thanks Dian/Sari, you made me this, too*; Andri : sampe lari ngejar ke ruangan saya karena nggak percaya sama omongan saya *thanks ya Ndri, atas dukungan andri kemarin2 itu* ; Ayah Farhan II/Arief : Alhambulillah Rinaaaa, akhirnya.. sambil mau pelukan ke saya…halaahh Rief * thanks banget juga Rief elo supporter kuat gue selama ini*; Ayah Farrel II/Wijil : lho, nggak nyangka so sooner…*A B C D Jil…he..he..*; Yoa, Clara, uni Safli : haahh.. selamat ya mbak, beneran nih mbak..? *emang tampang gue kayak becanda apa yach??*; Zaki, Upi, : selamat sambil pelukan juga, mereka juga berbaik hati bantuin saya ngebenerin jilbab *blushing*; mbak Ana, Dian, Deki : wah mbak, jadi pangling nih, koq jadi lain yach… waduh kita kapan nih ?? *ayo Dian/mbak ana aku tunggu ya, nanti kita foto bareng lagi udah sama2 jilbaban yach..*; Pak Sarkosih : Aduuh, mbak Rina jadi tambah cantik lho, sayang…*plis deh sayang, wink.. he..he*; Santi cinta : sama dengan pak Sar, cuma belakangnya diganti dengan cinta..he..he..

Hhhhmmmmm… Really speechles, till now. Still can not believe it. Still got feeling sooo amazingly. Sooo blessful.Ternyata Allah memang punya rahasia untuk setiap makhluknya. Dan inilah rahasia terindah Dia untuk saya. Alhamdulilah saya dikasih hidayah, diberi cahayaNya pada saat saya nggak sedang ditimpa musibah, nggak pada saat diberi cobaan berat. Alhamdulillah juga saya ditunjuki ketika orang tua saya masih lengkap. Ketika saya masih ada usia, hidup di dunia ini. Ketika masih diberi waktu untuk bertaubat. Allah memang saaangaaat baik hati kepada saya. Lalu kenapa saya mengingkarinya ? Astaghfirullah…

"Fix you" by Coldplay selama ini menjadi salah satu lagu favorit saya. Ketika kemarin saya putar, saya baru sadar ternyata liriknya banyak matching dengan pengalaman spiritual saya ini. "Andai Kau Tahu" dan "Surgamu"  Ungu juga makin berasa daleeem syairnya. Tapi, kalau anak-anak sekarang menjadikan lagu "AKhirnya Kumenemukanmu " nya Naff sebagai lagu kebangsaan pacaran mereka, namun saya harus mengakui bahwa saya menjadikan lagu indah ini menjadi Mars Spiritual Journey saya…

Akhirnya ku menemukanmu, saat hati ini mulai merapuh

Akhirnya ku menemukanmu, saat raga ini ingin berlabuh

Ku berharap engkaulah,  jawaban segala risau hatiku
 
Dan biarkan diriku mencintaimu hingga ujung usiaku

Reff: Jika nanti kusanding dirimu, miliki aku dengan segala kelemahanku

Dan bila nanti engkau di sampingku, jangan pernah letih ‘tuk mencintaiku

Akhirnya ku menemukanmu, saat hati ini mulai merapuh

 
Thank God, akhirnya aku menemukanMU.. dan aku ingin KAU mencintaiku…. cause I love YOU, too.

Yeah, a brand new me. Alhamdulillah, I finally do…. [ keep smiling… with a bit happily tears … :) ]

  

 

 

 

Wed 1st Nov, 2006, their career

KinerjA

Perusahaan, dimanapun, mostly mengharapkan kinerja yang maksimal dari para karyawannya. Karena buntut-buntutnya akan menghasilkan peningkatan produktivitas yang pada akhirnya dapat meningkatkan income bagi perusahaan. Jadi ketika kemarin di salah satu acara kantor kami dan salah seorang pembicara mengetengahkan masalah kinerja sebagai main topic, dan pada akhirnya menganggap bahwa kami semua disini belum menghasilkan kinerja sesuai yang diharapkan, wweeiiitttssss….!!! tiba-tiba saat itu juga saya ingin memecahkan kaca jendela yang ada di ruangan acara tersebut berlangsung.

Saya termasuk penganut faham perfectionist, jadi pada dasarnya saya sangat menjunjung tinggi kinerja yang baik. Tapi ketika saya (saya nggak tau yang lain, saya yakin mereka juga samalah) merasa telah melakukan semuanya, ulangi semuanya : dedikasi (dateng tepat waktu, bantu departemen sana sini alias serabutan, nggak pernah neko-neko), loyalitas (setia overtime nemenin boss di saat sekretaris lainnya udah ngacir pulang, karyawan lain udah pada pulang tenggo), produktif (kerja untuk beberapa (was) atasan), all out (sakit-sakit/anak sakit juga belain masuk kerja karena takut gajinya dipotong), even sacrifice (unpaid overtime, seringan nalangin duit konsumsi untuk acara2 kantor *geleng2 kepala*, and the worst : perusahaan ingkari commitment awal mrk ke saya *aarrgghh*). So, kinerja yang mana yang dimaksud ? Sementara, andaikata saya balik pertanyaannya menjadi : reward apa yang saya dapat dari perusahaan atau apa yang telah perusahaan berikan atas kinerja saya (selain gaji pastinya karena itu adalah hak saya sebagai karyawan). Is there any overtime fee (plis deh, basic banget ini mah!!)? Or any training? (toilet training??) Jamsostek juga baru saja diberikan tahun ini setelah 4 thn perusahaan berdiri-itupun dengan memotong sebagian gaji karyawan. And other undescriable stuff here…

Ketika di tempat kerja sebelum-sebelumnya saya merasa sangat diappreciate sebagai karyawan, direward dengan baik karena saya yakin kinerja saya juga baik di mata atasan (kenaikan pangkat regularly, annually raise-up salary dgn kenaikan gaji hampir 40% sementara teman lain hanya 15-20%, dapat training2, dapat jasprod/bonus/fee tambahan, ada pinjaman karyawan), tapi disini hak & kewajiban berasa jomplang, reward n’ punishmentnnya koq nggak balance, simbiosis mutualismenya asli nggak jalan.

Sayangnya saya selalu berusaha membawa sikap hardwork..hardwork n’ hardwork, always be profesional, keep thinking logically and positively, sebagai etos kerja saya, dimanapun saya bekerja. UUhhhmmmm…. tapi disini, rasa-rasanya saya harus menambahkannya lagi dengan patience dan muka badak (bingung nyari bahasa inggrisnya, "rhino face" asyik nggak yach..he..he..) sebagai tambahan etos kerja saya. Karena kalo enggak, saya bisa "gila"…..

Lately, crazy is becoming my middle name, too.

Dear GOD, I do believe only YOU could make me pass this over, only YOU will stand by me and finally help me out with your WILL.