Our 10th Anniversary
28 November, 10 years ago…
Usia saya saat itu 25 tahun, sedang meniti karir di salah satu bank swasta devisa, ketika tiba-tiba suatu malam [mantan] pacar saya, Daus, yang telah bekerja juga di salah satu perusahaan otomotif, tiba-tiba berbicara serius mengenai keinginannya untuk menikahi saya. Kami memang sudah berpacaran selama 4 tahun, sejak kuliah di FE-UP [Daus adalah kakak kelas saya, selisih usia kami 2 tahun]. Pendek cerita, akhirnya kami menikah di Mesjid Al-Azhar Jakarta Selatan. Kemudian esoknya diadakan resepsi sederhana di salah satu gedung di Jakarta Selatan, dengan campuran adat Aceh dan Minang.
9 April 1999
Setelah 1,9 th usia perkawinan kami, barulah saya dinyatakan positif hamil. Pada tahun ke-3 akhirnya kami diberi anugerah anak pertama. Ia laki-laki, lahir di RS. Asih - Kebayoran JakSel, secara normal, berat 2,6 kg panjang 48 cm. Kami beri nama : Farhan Andafa. Farhan artinya bijaksana, cheerful (ternyata Alhamdulillah emang beneran periang anaknya). Andafa : he..he.. singkatan ANak DAus FArina (takut nggak diakuin..).
12 Mei 2004
Lahir anak kedua kami. Alhamdulillah, kali ini perempuan, lahir di RS. Asih juga, secara normal juga, berat 2,4 kg panjang 47 cm. Wanita mungil ini kami namakan : Farrel Andana. Awalnya saya hanya senang menyebut farrel..farrel.. so cute aja, tanpa tahu artinya. Belakangan baru saya tahu bahwa Farrel artinya adalah pemberani, dan mostly diberikan kepada anak laki-laki (teman sekelas Farhan anak saya ada yang namanya Farrel, lalu anaknya Wijil teman kantor saya juga namanya Farrel dan sekali lagi, laki-laki juga..:)). Dan he..he.. anak saya ini ternyata beneran emang pemberani, biar perempuan tapi dia lebih pemberani dibandingkan kakaknya. Andana : ya, lagi-lagi ANak DAus riNA..(masih ngak percaya diri …).
*****
[ flashback ]
Pastilah sudah banyak sekali asam garam, suka duka, nikmat cobaan, ketawa tangis, mewarnai 10 tahun pernikahan kami ini. Sempat pada saat yang sama (tahun 1997), kedua bank swasta tempat kami mencari nafkah dilikuidasi, sehingga kami berdua jobless..he..he.. Untungnya bank tempat saya bekerja dilanjutkan lagi operasionalnya setelah dilakukan perubahan nama, dan selama 2 tahun sayalah yang menjadi tulang punggung keluarga. Sempat punya mobil pribadi, tapi kemudian kami jual karena untuk menambah uang muka beli rumah. Kami sempat memiliki dan tinggal mandiri di rumah mungil hasil keringat kami (sebagian hasil jual mobil kami gunakan untuk renovasi), di daerah Pekayon-Bekasi Barat selama 4 tahun, tapi karena lokasinya beberapa kali disinggahi oleh banjir..he..he.., kami terpaksa menjualnya. Dan sejak kelahiran anak kedua tahun 2004 kami sekeluarga kembali ke rumah orang tua (Pondok Mertua Indah) di Pancoran-JakSel. Impian untuk punya rumah sendiri lagi belum bisa tercapai saat ini..hiks..hiks.. Tapi ya sudahlah…
Kemudian bergantianlah, ketika bank tempat saya bekerja dilikuidasi untuk kedua kalinya, Abanglah yang bekerja sendiri. Dengan penghasilannya yang tidak seberapa, dan jarak tempuh kantor yang jauh di Cengkareng sana, saat itu saya harus pandai-pandai mengatur pengeluaran. Kami tidak mampu menggaji pembantu, sehingga sayalah yang bertanggungjawab mengurus rumah dan anak. Saya juga harus menghemat menu makanan sehari-hari dengan berlangganan catering Rp.12.000,-/hari, lauk itu harus kami hemat untuk sehari semalam untuk 3 orang. Demi menghemat ongkos transport, Abang rela berjalan kaki keluar/kedalam komplek rumah kami (jarak dari rumah ke pinggir jalan besar tempat angkot kurang lebih 500m, sehingga biasanya naik becak).
Alhamdulillah, setahun kemudian saya mulai mendapatkan pekerjaan lagi. Sempat juga tahun 2003 abang memutuskan untuk keluar dari perusahaan tempatnya bekerja karena sesuatu hal dan vakum untuk waktu sekitar 6 bulan, sebelum akhirnya dia mendapatkan pekerjaan lain.
*****
It really needs both sides [to build a strong-unbreakable marriage]
Terkadang kita dihadapkan kepada sebuah pilihan, sebuah keputusan, yang semuanya membutuhkan kesamaan visi, kekompakan kedua belah pihak. Buat saya, perkawinan adalah suatu tujuan. Saya dan Daus, sudah pasti dua kutub yang berbeda. Beda karakter, beda latar belakang, beda pola asuh orang tua (kebetulan Daus adalah anak tunggal), mungkin juga ada beda prinsip hidup. Dan untuk mengubahnya adalah suatu hal yang pastilah mustahil. Jadi dibutuhkan kebesaran hati, kerelaan hati and a very wide excuses to accept them (even sometimes hurt), to adjust (even harder), to fulfill… Jadi ketika salah satu menyerah, saya yakin kita nggak akan pernah mencapai tujuan awal kita. Saya hanya bisa berharap, saya dan Daus masih bisa dan akan selalu terus satu kata, satu visi dan mudah-mudahan kami diberi usia panjang untuk meneruskan tujuan perkawinan kami ini.
Communicate, appreciate and humour…
People change ! Sedahsyat apapun usaha kita untuk menjaga perkawinan, namun kadangkala ada faktor X, Y dst yang bisa saja akhirnya mengubah seseorang. Kadangkala saya khawatir ini terjadi juga pada kami. Saya selalu berusaha menjaganya melalui intensitas komunikasi dengan suami dan anak-anak. Kapanpun, dimanapun, dalam situasi apapun. Meskipun kadangkala saya sangat ingin menerapkan persamaan gender dalam rumah tangga kami, tapi ternyata saya harus dihadapkan pada kenyataan bahwa memang appreciate, penghormatan, menghargai, menghormati, pride (terlebih untuk kaum lelaki) adalah sangat penting, diatas segalanya. Jadi saya berusaha (meskipun kadangkala berat, karena saya juga merasa berhak untuk diappreciate karena sayapun melakukan tugas & tgg jawab suami..he..he.. feminis banget sih saya..) untuk sedapat mungkin tidak menyinggung harga dirinya, menjaga rahasianya, selalu support dibelakangnya. Dan humour, ya humour. Humourlah yang buat saya menjadi penyelamat perkawinan kami selama ini. Ia selalu ada dan hadir dalam rutinitas kehidupan kami sekeluarga. Humor itu nggak susah, mudah, murah lagi,.. ya kan.. !? Alhamdulillah saya dianugerahi seorang suami yang sangat humoris, easy going, and sooo ekstrovert. Demikian juga anak-anak saya, mereka periang, pembanyol juga… Alhamdulillah.
Enriching love and caring
Katanya, cinta itu bisa layu bila nggak disiram. Sentuhan kecil seperti mengusap, membelai, berpelukan, tersenyum (meskipun senyum saya mahal, kata si Abang..he..he..), mencium, menggaruk-garuk punggung (Abang paling senang digarukin punggungnya), bikinin teh manis setiap pagi sampai sekarang, ninggalin pesen-pesen/note lucu di white board kamar untuk abang or anak-anak, berenang sekeluarga sebulan sekali di Citos, sesekali masakin untuk mereka (sesekali..? plis deh, ketauan nggak pinter masak). Dan yang paling penting, juga paling enak..he..he.. having sex regularly… *psssttt, itu kan sunnah Rasul*.
Lillahi Ta’ala
And at the end, saya harus mengikhlaskannya pada Allah semata. Suami saya, kedua anak saya adalah kepunyaan Allah semata, Mereka semua adalah anugerah yang diberikan Allah untuk saya, mereka semua juga menjadi cobaan buat saya, dan yang nggak bisa diingkari adalah bahwa mereka hanyalah titipan Allah, yang kapanpun DIA mau, Dia bisa ambil. Sebesar apapun saya mencintai mereka, seberapa besarpun pengorbanan saya kepada mereka, seberat apapun usaha saya untuk menjaga mereka, tetapi Allah lah yang memiliki mereka. DIA bisa lakukan apa saja, kepada mereka, kepada perkawinan kami juga. Jadi saya selalu berusaha ikhlas dan pasrah kepadaNya…
*****
Dearest Abang / Ayah Daus : thanks a lot for standing beside me, really beside me all of these years. Thanks so much for loving me, accept me as I am..he..he.. Thanks to you too for being such a wonderful caring, listening and giving husband. I really adore you as my friend, my brother, my lover, my "enemy" when we’re under the blanket *wink*, my best secret keeper, my best problem solver…
Dearest Dafa and Rerel : thanks to you too for being wonderful, sweet, lovely kids. I really, really, really love you, always love you.. forever. Muah..muah.. *do u wanna have little brother/sister ? cause I do, honey…*