Sun 30th Apr, 2006, being mom

They must be TOUGH - Closing Episode

Berharap ini bisa beneran bisa jadi Closing Episode, karena saya tahu pastinya udah pada bosen, mungkin ketiduran atau malah mau muntah * hueeekkss..* (but i don’t care… go ahead, just throw up.!!..he..he..). Coz i just wanna share it to all of you. No need any comment, no need approval, no need disagreement, no need anything. So could know a part of my self, a part of my life. 

Artikel ini saya buat ketika usia saya 35 tahun, hari ini (30 April 2006), ketika saya BARU 7 tahun menjadi seorang ibu. Ketika saya merasa begitu lemah menghadapi anak2 saya, hanya satu kalimat inilah yang muncul di benak saya: They must be TOUGH.  

* My beloved kids

kedua anak saya merupakan anugerah paling indah yang pernah Allah berikan kepada saya, dan saya bertekad untuk menjaga titipanNya dengan baik sampai akhir hayat saya,

saya sempat merasa sedih karena hanya menyusui Farhan hanya selama 9 bulan, bukan karena ASI saya habis, ttp karena badan saya demam, dan sesudahnya tiba2 ia tidak mau saya susui lagi, untungnya Farrel terus menyusui sampai ia kini hampir 2 tahun,

saya beruntung Farhan dan Farrel memiliki good sense of humour, yang buat saya amat penting untuk lebih relaistis menghadapi kehidupan mereka kelak,

satu saat saya sempat teramat marah kepada Farhan sampai melempar bukunya, dan sesudahnya saya menyesal, lalu meminta maaf dan memeluknya, kemudian saya pergi ke kamar mandi dan menangis sendirian disana, karena saya yakin saat itu saya telah menyebabkan luka hati yang akan membekas terus di hidupnya,

saya bersyukur, tanpa saya minta,  Farhan selalu menunjukkan prestasi terbaiknya di sekolah maupun tempat2 kegiatan lainnya, namun sebetulnya yang terpenting untuk saya adalah kedua anak saya memiliki EQ yang baik, berakhlak mulia, pandai bersosialiasi, pandai memecahkan masalah dan menjadi anak yang tangguh,

Alhamdulillah, meskipun kadangkala berantem, kedua anak saya tampak jelas saling mencintai,saling support, kompak, rukun dan saya berharap selalu begitu sampai mereka dewasa kelak,

** Me and career

saya sempat menyesali keputusan saya (beberapa waktu sesudahnya) untuk menolak tawaran Pak Made (Mantan KaUr Kredit) untuk melanjutkan karir di Bank, maupun membatasi diri untuk tidak lagi berkarir di bank,

saya sempat bimbang dan merasa bersalah ketika pertama kali memutuskan untuk bekerja kembali dan meninggalkan Farhan untuk bekerja,

saya merasa rendah diri terhadap sahabat2 saya maupun ex co-worker saya, yang karena mereka stay tune bekerja di bank, they got promotion and now being on the top of their career,

*** As a daughter

saya selalu teringat sup kimlo yang selalu ibu saya buatkan ketika saya sakit,

ibu saya adalah orang yang benar2 mengabdi, tough, pandai menutupi kesedihan, sangat ahli membuat kue dan senang membuatkannya untuk kami setiap sore, sering membuat joke dengan bahasa jawa timurannya, tapi basicly ia adalah type wanita yang seringkali take something seriously,

saya pernah merasa down ketika mengetahui rahimnya harus dipasang ring, karena letak rahimnya telah turun keluar mendekati lubang vaginanya, yang disebabkan karena melahirkan anak yang cukup banyak dan sering mengangkat beban berat,

dalam setiap sholat saya, saya selalu berdo’a untuk keselamatan ibu saya, di dunia dan akhirat

saya sempat ikut merasa stres dan selalu menemani ibu saya ketika beberapa kejadian tidak enak menimpa keluarga kami, yang membuatnya stress berkepanjangan, di usianya yang sudah tidak muda lagi,

saya merasa saya belum melakukan yang terbaik untuk ibu saya, seperti yang telah ia lakukan kepada saya seumur hidup saya,

*****

Saya baru 7 tahun menjadi seorang ibu, baru 2 anak yang Allah SWT titipkan kepada saya, tapi saya tidak tahu apakah saya bisa as tough as you, mom. Yang dengan tegarnya 5 kali melahirkan tanpa ditunggui oleh Bapak *saya nggak respect bgt dengan bapak karena yg satu ini*, yang dengan tangguhnya mensupport bapak untuk menunjang kehidupan ekonomi keluarga kami, yang dengan keibuannya melindungi dan mengayomi kami, yang dengan bijaknya menutupi setiap masalah yang muncul, yang pastinya memiliki kesabaran hati dan ketegaran jiwa dalam menghadapi ke 5+1 sifat dan perilaku anak2nya, yang benar2 berkorban jiwa raga untuk kami sekeluarga. I really adore and envy you for that, mom… *crying*

*****

Begitu banyak kekurangan saya sebagai ibu (& mungkin sebagai isteri) selama ini. Begitu rendahnya kesabaran saya dalam menghadapai "keunikan" anak2 saya. Begitu lemahnya saya dengan keluhan2 saya selama ini, bawel saya selama ini. Begitu inginnya saya berkorban peluh dan tenaga saya untuk mereka setiap hari. Begitu inginnya saya memeluk erat dan mencium mereka setiap saat dan begitu bahagianya saya ketika mereka berbuat hal yang sama. Begitu berartinya mereka bagi saya…

*****

Ternyata,…

saya bersyukur karena saya masih bisa menangis dan menyesali kesalahan saya,

saya sangat yakin bahwa apapun keputusan yang telah saya ambil akan memberi kebahagiaan untuk diri saya sendiri dan keluarga kami,

saya adalah orang yang paling beruntung di dunia karena bisa mengalahkan karier dan harta teman2 maupun sahabat2 saya, hanya dengan bermodalkan 2 orang malaikat kecil saya, seorang suami yang teramat sangat baik *i love u, honey* dan perkawinan hampir 10 tahun kami… 

*****

Awalnya saya sempat bingung untuk menempatkan artikel ini, karena bbrp isinya bertutur ttg karier pekerjaan saya *should i put this in "woman-in career" or "woman-being mom"*. tetapi akhirnya saya memilih yang kedua, karena ternyata pengalaman saya menjadi seorang ibu lebih memperkaya batin saya dibanding menjadi wanita karir. Namun being a real mom or not, being a mom + a career woman or being a real career woman only, semuanya adalah pilihan kita masing2 dan tidak ada satupun yang buruk. Keduanya tetap menjadikan kita wanita sejati.

Mengcopy kalimat pembuka diatas…

Artikel ini saya buat ketika usia saya 35 tahun, hari ini (30 April 2006), ketika saya BARU 7 tahun menjadi seorang ibu. Ketika saya merasa begitu lemah menghadapi anak2 saya, hanya satu kalimat inilah yang muncul di benak saya: They must be TOUGH.  

Saya kemudian bertekad, untuk occasionally (maybe once in 5 years), ingin mereview, berkaca, merenung, mengkritik diri sendiri, menertawakan diri, mengup-grade, memotivasi diri untuk dapat berbuat lebih baik dan lebih baik lagi menjadi seorang ibu. Do’akan saja saya masih bernyawa, masih diberi nafas oleh Allah, masih memiliki tangan untuk menulis, masih punya akal untuk berpikir, untuk bercerita sekelumit tentang sebagian diri saya.

Dan mungkin 5 tahun mendatang, saya akan bercerita mengenai Farhan yang memasuki usia pubertas, mulai bertanya ttg sex lebih mendalam, mulai tertarik lawan jenis, mulai dengan dunianya sendiri (teman2nya), sementara Farrel mulai memasuki dunia sekolah. Dan kemudian 5 tahun sesudahnya ketika Farhan mulai punya SIM, makin expert ttg sex, mulai digoda oleh "narkoba" maupun "perempuan", mulai berani berdebat dengan kami. Dan bahkan 5 tahun sesudah sesudahnya lagi, ketika Farhan mengalami ketatnya persaingan mencari kerja, menghadapi masalah2 hidupnya yg makin kompleks, dan Farrel memasuki usia puber dan mulai didekati lawan jenis, dan seterusnya..dan seterusnya…

*****

Ternyata Allah memang sangat sayang pada saya. Saya terpilih diantara jutaan orang di dunia ini, untuk menjadi seorang ibu. Saya hanya ingin memberikan modal agama yang kuat untuk kedua anak2 saya, supaya mereka nggak salah melangkah, nggak mudah lengah dan tergoda, tough enough untuk menghadapi beraneka macam persoalan didalam hidupnya kelak. Memberikan pendidikan yang terbaik untuk mereka supaya mereka bisa survive di dunia nyata sana, supaya bisa being struggle. Saya selalu berdo’a so that i can be as tough as you, mom. So they can always be my angels who always pray for me ’til i face you, God.. Amiiiin.

*****

This story is dedicated to my 2 beloved children, FARHAN ANDAFA and FARREL ANDANA.

Love you always, nak…   

*** Bunda Nina - Jakarta, April 30′ 2006***

Wed 26th Apr, 2006, being mom

They must be TOUGH - Part 3 (sambungan yang Part 2)

Satu hari saya hang out dg 3 sahabat saya sejak SMA, saya membawa serta dua anak saya. Sahabat saya itu, yg 1 telah menjadi Asmen di bank swasta terkemuka, unmarried. Yang satunya lagi Kacapem bank swasta, married 8 th tp blm pny anak. Satunya lagi malah sudah Asst. VP di salah satu Group Bakrie, MM pula, dah pny rumah & mobil pribadi keluaran th.2005, unmarried. Esoknya sobat saya yang Asst. VP ini bercakap via YM.

Hai Na..
Hai Ty..

Lagi sibuk nggak lo Na?
Not really, kenapa..?

Mmhh..nggak.  gue seneng banget deh Na liat elo kemaren…
Haah? *sambil bingung*, kenapa emangnya ?

Nggak, gue salut banget ama elo Na. Menurut gue hiduplo tuh udah lengkap banget ya Na. Married, punya dua anak lucu. I envy you for this.. laugh emoticon…

Humming.. Get loss deh lo Ty.. Yang ada gue kali yang mesti envy. Elo betiga udah berada di posisi2 yang oke, karirlo semua oke banget. Gaji mmhh.. yummy (temen2 saya itu yg brg2nya branded, make-up n facialnya RoC, pot. rambut di Luvaze, tp msh suka ke mango 2 jg sech..). Sementara gue, kerjaan gue msh gini2 aja, cuma ada mobil butut, rumah blm punya dst..dst.. Gila kali lo yaa.. *tetep bingung*

 Ah, kalo soal kerjaan sih masalah rejeki2an aja lah, Na. Tapi liat donk, anak2 lo lucu2 banget, pinter n ngeliat elo ama mereka kemaren bener2 bikin gue salut. Elo bisa balance jalanin semuanya. Kumplit banget ya Na hidup lo…

*sementara cengeng saya mulai beraksi, mata saya mulai berkaca2 dibuatnya…* saya nggak bercerita bahwa di kantor Daus sedang ada masalah pelik & dia mungkin terancam PHK.

*** sambil tetep berkaca2 saya meneruskan menulis..*

Ty, yang elo liat kemaren itu kan pas mereka lg seneng2 aja. Lo kan ga pernah liat mrk berantem, ato mrk nakal n gue jadi marah, gue ma Daus juga sekali2 berantem elo mana tau. Elo kan tau gw msh mikirin perush. tempat Daus kerja yg blm settled. Gue jg stress krn  belom dapet2 rumah sementara anak gue dah 2 bok. Gue lah yang bangga liat elo..Umur segini elo udah settled, semua2 udah punya, bisa support keluarga lagi.. dst..dst.. 

** sementara dia masih melanjutkan admiring me…. sayanya tetep bingung, dan saya juga terus keep admiring her…

Keliatannya masih bersambung krn belom sampe pointnya, tinggal ending aja sih. Jadi kayaknya bersambung lagi deh….

Tue 25th Apr, 2006, being mom

They must be TOUGH - Part 2 * plis deh, udah baca Part 1 kan..?

Ternyata emang nggak semudah yang dibayangin. Being a real mom is really not that easy. Jujur banget saya sangat menikmati masa2 merawat dan membesarkan Farhan, menikmati perkembangan fisik & mentalnya dan betul2 senang dan tulus memberikan segala sesuatu yang bernama kasih sayang ibu. Kegiatan hari2 tersebut ditambah lagi dengan setiap pagi dan sore hari, saya menyempatkan diri untuk mingle dan bersosialisasi dengan tetangga alias ibu2 & anak2 mereka *sambil bergosip ceritanya*, setiap Kamis mengikuti pengajian ibu2 di mesjid komplek kami, ikut arisan RT dll. Tapi ternyata itu semua tidak bisa memberhentikan saya untuk merasa boring, dan pada akhirnya saya menyadari, bahwa saya ternyata memerlukan kegiatan lain yang bisa mengisi mental saya, saya perlu mengaktualisasikan diri saya di kegiatan lainnya, yaitu bekerja. Dan saya kuatkan hati saya untuk berkata: I’m sorry nak, but i have to leave you now. Mom really need to get a job.

Tepat usia Farhan 1 tahun saya kembali bekerja, tetapi saya memang telah memutuskan untuk tidak akan kembali ke dunia perbankan. Disamping bekerja di bank bukan suatu hal yg menarik lagi krn saat itu banyak bank msh akan dilikuidasi, saya juga tidak ingin kembali menjadi Account Officer yang under pressure, dikejar deadline & target, dibabat oleh Dewan Direksi, dimarah2in nasabah, maupun marah2in nasabah yang nunggak kredit.. he..he.. *hampir setiap hari saya selalu pulang diatas jam 8 malem, entah karena masih on the spot nasabah, sibuk mengarang Credit Memorandum & analisa kredit yg njelimet itu sampe malem, meeting dll* Even rewardnya okay banget, karena kami2 ini ujung tombak yang profitable untuk perusahaan, belom lagi Direktur Kredit saya *apa kabarnya Pak Uthan?* yang pinter, baik dan care banget ama kita, sering ditraktir makan/dikirimin makanan oleh nasabah..he..he.., dapet tunjangan AO *yang bikin anak2 operasional iri*. tetep aja saya nggak tertarik lagi. 5 tahun cukup sudah buat saya.

Akhirnya saya diterima di perusahaan kecil tapi well-organized and orang2nya asyik banget, tetap bergerak di bidang finance (sekumpulan Asst. VP Credit Bank Mandiri yang nampung asset2 yg dijual oleh BPPN), menjadi Admin & Finance staff *sedikit jadi AO juga sih..he..he..*. Setahun kemudian ditarik menjadi Sekretaris Managing Director, mungkin karena saya dianggap termasuk salah satu wanita yang responsive *ehm..ehm..*, termasuk rapi (dari 2 orang wanita..hallllaaaah..), seneng resik-resik, dan bebenah *sekretaris apa babu sih.?!*. Kadang sih lembur, tp nggak under pressure, banyak ketiban duren runtuh alias komisi dari success fee, and banyak network. Dan ini semua jadi feedback yang bagus banget untuk mental saya, terutama hubungannya dengan perkembangan anak saya. Saya ibu bekerja yang mentally and phisically health & happy, yang pada akhirnya setiap kali pulang kerja nggak bawa stress, saya masih sempat  bermain dengan anak saya, menyusuinya, dan setiap pagi masih saya sempatkan untuk memandikannya. Seiring dgn tutupnya BPPN dan sepinya order, tutup jualah perusahaan tempat saya bekerja.

Masih lanjut Part 3 nih… belom pada ketiduran kan …wekekekekekk..

Tue 25th Apr, 2006, being mom

They must be TOUGH - Part I

Beberapa waktu lalu, Nanda, sahabat saya semenjak di SD Cilandak, melahirkan putera ketiganya. Pada saat tahu ia hamil lagi, setelah anak2 saya tidur, saya sempatin ngobrol ke Daus: Yah, tadi Nanda telfon, dia lagi hamil lagi tuh..dst..dst.. Terakhir2 saya mencoba flirting: mmhhh….kayaknya jadi pengen hamil lagi nih yah…*sambil mesam-mesem*. Diluar dugaan, sambil teteeuup nonton TV, dia cuma bilang: Bunda, udah deh, kita make love aja, nggak usah make child. Aku yang pusing soalnya, dua gini aja kamu udah bawel, belom mikirin sekolah mereka lagi..dst..dst.. *tanpa ekspresi, hhuuuaaa..*. Padahal sih maksud saya nggak 100% kesitu2 amat, bukan acc-nya sebenernya yang saya tunggu, tapi emang ML-nya itu *suit..suit*. Berharap dia langsung meluk tubuh saya, kissing me, narik bed cover, matiin lampu and serbuuu….. *adis, sinta, ferry, lea, jangan ngiler yach - waktumu akan tiba.he.he…*. Akhirnya emang kejadian deh tuh..hi..hi… *horeee, enyak..enyak..enyak..*

Tapi emang bener apa yang dia bilang. Being a mom is not that easy. It needs full of love, caring, patience, sacrifice, forgiveness etc. Saya salut banget sama wanita2, yang bekerja maupun ibu rumah tangga sejati like my mom, yang beranak lebih dari 2 (tiga masih cincai deh). Dari mulai eyang puteri saya yang punya anak 11, ibu saya yang beranak 5+1 *love u mom*, termasuk didalemnya teman2 saya such as Santi akademik yang beranak 4 mrincil-mrincil *bravo San..sueerr*.

Saya jadi review peristiwa 7 tahun lalu, saat pertamakali brojol. Saya baru dinyatakan hamil setelah 1 th 9 bln perkawinan kami, jadi Farhan lahir pada tahun ke-3 perkawinan kami. Perjuangan melahirkan pertama saya ya layaknya ibu2 lainnya laah. Herannya kedua anak saya sama2 ingin keluar pada saat tengah malam, selalu ke rumah sakit jam 12 *kayak dongeng Cinderella banget*, pas semua orang baru asyik dibuai mimpi. Tengah malem heboh mules2, lari ke RS, pdhal ternyata baru buka-an 1, pulang lagi. Besok malemnya mules lagi jam 11 malem, tapi kali ini  Daus udah ngga percaya lagi, karena keganggu tidurnya. Jadi dia hanya menyuruh mama dan papanya untuk menemani saya *hiks..teganya..*, dan minta saya untuk mengabarinya kalo bukaannya udah banyak *uuugghh… berani berbuat tapi….* Tapi oke juga sih, dia selalu menemani saya dari awal sampai akhir proses persalinan kedua anak kami.

Awal perjuangan jadi ibu, ya dimulai disitu deh. Mules2 kontraksi, ngeden2, tereak2, and begitu bayinya keluar, owek..owek.., saya bersyukur dan ikut nangis, detik itu juga saya commit dengan diri saya untuk take good care of him. Based on this true story, saya memutuskan untuk menolak pinangan Pak Made & mbak Wisdha, mantan KaUr dan KaBag Kredit saya di Bank Andromeda, untuk kembali bekerja membantu Tim Pengelola Sementara di bank saya yang dilikuidasi, pada bulan pertama usia Farhan. Idealismenya ya cuma satu itu, ingin mengurus anak. Wanna be a real mom… ceritanya *mungkin karena merasa dapetnya rada susah n lama*.

3 bulan berlalu, happy, enjoy banget, mengaplikasikan semua ilmu tentang cara merawat & membesarkan anak via TV, buku, majalah dll. 6 bulan berlalu, makin enjoy, senang mengikuti perkembangan Farhan day by day. Bulan ke 8 mulai panik dan sedikit boring, mulai lirik2 iklan lowongan kerja, begitu seterusnya.. hingga saya memutuskan untuk mulai mencari pekerjaan lagi. 

Tu bi kontinyu… Don’t go away, i’ll be back with Part 2.. ha..ha..ha..

Mon 24th Apr, 2006, VS Man

You’re 100% NOT strange..

Alhamdulillah, case closed, in peace. Ketidaknyamanan bbrp waktu yang lalu bener2 ngga asyik banget buat saya karena pekerjaan mengharuskan saya bertemu setiap hari. Sementara saya dalam kondisi yang udah freak out/sebel/bete banget, tapi ternyata satunya lagi malah nggak mudenk *ngerti* sebab musababnya… hallaah… Tapi untungnya, justru karena kenggakngertian itu, dan dia curhat ke temen saya satu lagi yang pakar *ehm..pakar kan?!..*, akhirnya semuanya jadi terpecahkan.

Ternyata "manusia ini" hanya belom terbiasa dengan kegiatan yang satu itu *hhaaahhh..bingung*, sementara sayanya terkaget2 dengan how he’s being so rude/sarcastic.. hiks..hiks… Dan intinya saya memang harus bisa lebih mahfud..eh mahfum..eh maklum.. bahwa he’s kind of man who is in Number 1 category. Kalo berharap mau dipusingin soal woman, chatting, pinky, gossip, and other women things, so only in your dream… he..he.. You’re 100% NOT strange, you’re just different.

Jadi seneng juga akhirnya "manusia itu" sekarang udah bisa nulis sesuatu yang at least nicer & membuat saya nggak "freak out" lagi. Gitu donk, bro… he..he.. Tapi teteeuuupp nih, saya masih belom berani alias parno untuk memulai/membuka percakapan untuk sekedar ngobrol di alam maya dan lebih baik ngobrol beneran dengan manusia ini karena berasa lebih enak ngomongnya. Dan lucunya setelah kejadian itu, dia yang tadinya sesekali mencoba menyapa saya meskipun dengan kalimat: Heeh… lagi apa lu…! *this is what i mean*, sejak kejadian ini tidak pernah mencobanya lagi. Mungkin juga ia masih freak out dengan sumpah serapah Kapten Haddock saya, yang menyatakan keberatan saya terhadap kiat2 ber-ngobrolnya dia. Sedih juga sih, karena artinya keinginan saya untuk digging more deeply, seperti yang saya lakukan ke kamu-kamu semua,  jadi berkurang. Padahal "sharring" is my middle name *huehahhaha..*dan sebenernya saya akan merasa seneng banget lho kalo diinvite, even cuma dengan 2 kata manis… like Hai, Rin.. or pagi Rin..or pagi.. with smile emoticon… Mmhhh.. how sweet…

Tapi udahlah, yang penting hubungannya udah enak lagi, terutama buat saya *lha wong dianya ngga berasa apa2…hihi..*. Artinya emang nggak bisa berharap banyak bisa sharing yang gila2an gituuu, yang a little bit open your heart… dengan kategori maskulin ini.  Seperti saya sharing ke makhluk2 mars lainnya disini.

And for you, my dear "Pakar", thanks a bunch yach. Mmuuuaaaaaahhhh… I owe you for this one…wuekakakakak..

Mon 24th Apr, 2006, being mom

NinA…

Sebenernya dia udah bisa memanggil saya dengan sebutan Bunda sejak usia 1,5 thn. kadang menyingkatnya dengan: Bun, tetapi lebih sering menjadi Nda. Tapi tiba2 sebulan ini dia memanggil saya dengan nama kecil saya. Ya, my 2 years baby Farrel sekarang memanggil saya dengan Nina. Mungkin karena kami memang sedang mengajarkan "silsilah" keluarga (terutama nenek moyang..hehe..) kepadanya. Dari mulai Kakek Hamid & Eyang Poer (karena saya peranakan Aceh-Jawa, maka pasangannya bukan kakek-nenek ataupun eyang kung-eyang ti, tapi Kakek-Eyang). Lalu Angku Achir dan Andung Betty (yang ini nih sebutan kakek-nenek asli ranah minang dari pihak suami).

Disusul dengan nama keluarga inti. Ayah Daus, bunda Nina dan kakak Farhan (belakangan saya lebih sering memanggilnya Dafa), termasuk dirinya sendiri (dia menyebut dirinya dengan "Ade" or Ayen, for Farrel…). Lain waktu kami sambung lagi dengan nama2 pakde/bude/om/tante dan kakak2 sepupunya (saudara kandung saya 5 org & pasangan msg2, + keponakan hampir 6 org). Beruntung suami saya hanya sendiri, karena kalau saja dia bersaudara sebanyak saya, jangan-jangan Farrel bisa kebingungan mengingatnya.

Jadinya sekarang setiap kali saya pulang kantor, teriakan pertama yang terdengar setelah pintu pagar saya buka adalah Ninaaaaa… Lalu ia berjoged2 kegirangan.. Nina uang..nina uang.. Endong… Saya sih asyik2 aja mendengarnya, berasa kayak teman. Meskipun kadangkala Daus suka geli juga mendengarnya karena tiba2 pada saat kami main bersama tiba2 dia nyeletuk: jangan nina, tidak oweh..(means: tidak boleh–> ketidaksetujuannya kalau ada yang menganggu mainannya) atau pada saat kami sedang membaca buku ceritanya bersama2: Na..na.. iyat ini.. Bibi, ain gitan.. cekikik…(sambil cekikikan menunjuk Beruang Bebe yang sedang bermain gitar). Ataupun panggilan mesranya saat ia haus: mimik Nina..mimik Nina.., sambil menunjuk ke arah…… saya. *agak susah menyapihnya*, yang membuat saya tidak bisa menolaknya sesibuk apapun saya.

Susahnya karena kami masih menumpang di rumah orang tua, biasalah namaya juga orang tua, mereka kadangkala berusaha meralat panggilan itu kembali menjadi Bunda (mungkin takut kebablasan). Saya tidak memprotesnya, tapi juga tidak mendukung larangan itu. Karena bagi saya hal ini nggak terlalu prinsip dan moment ini nggak akan pernah bisa direwind kembali. Berbeda halnya dengan masalah disiplin, mandiri & tanggung jawab. Waadduuhh, kalo itu bawel banget deh gue… Lagian anak2 gini kan fasenya lagi meniru dan akan berubah2 terus, jadi menurut say sih no worry lah.

Tapi tetep aja kedua kakek-neneknya keep trying. Walhasil sekarang ini kadang2 Farrel memanggil saya dengan Nina, tetapi kadang2 jadi Bunina *singkatan dari Bunda Nina, halllaaah*.. Tuh kan.. jadi aneh… hihihiihi… 

Thu 20th Apr, 2006, Daily

Jagoan2 PUISI - “Karya Chairil Anwar”

adisDari jaman dulu kala saya selalu kagum sama mereka2 yang bisa bikin puisi. Menurut saya IQ mereka pastilah tinggi karena bisa menyusun kata secara tersirat, bukan tersurat. Coba simak deh salah satu karya <a href="http://matacahaya.blogsome.com">adis</a> bagus banget kan.. *setuju..setuju*. Atawa puisinya om Faris *sui..suit* yang sayangnya masih ngejogrog di email yahoo saya.. Daleeemmm banget, man. Wah..wah.. Ris, nggak nyangka nih, ternyata ente jagoan beginian…

Suatu hari saya juga pernah dapet kiriman email dari Diway Jikom, puisi tentang anak *pastinya elo2 semua juga dapet kan karena ngirimnya ke nurses@binawan*. Saya udah pernah baca juga sebelumnya, tapi tetep aja berkaca2 lagi mata saya, secara teringat saya masih kadangkala kurang sabar menghadapi "keunikan" anak. Diway, thanks for remind me..

Tapi tiba-tiba sore kemarin, secara saya udah matiin blog ini, namun akhirnya dengan tergesa-gesa membukanya lagi, karena permintaan <a href="http://rabbani.blgosome.com">arief-papa farhan</a> yang nggak bisa saya tolak. Wuekaakkakakakakak… saya asli ngakak2 sampai keluar air mata *no offence ya, rief* membaca puisi di blognya, yang menurut empunya bernama Ramalan Jayabaya. Puisinya sih okay banget, asli!!. Isinya sindiran2 terhadap keadaan kita sekarang. Tapi in a glance yang saya lihat awalnya semua menggunakan bahasa jawa *kromo inggil lagi*.. sampe geli sendiri.. Mana panjangnya minta ampun, karena ternyata, setiap bait diterjemahkan kedalam 3 bahasa.. *salut sama yang kepikiran bikin*..he..he.. Tapi bagus banget koq Rief isinya.. Mana kiriman lainnya, katanya mo ngirim lg, opo judule saiki?? *ketularan jawir deh*.

Pokoknya sekali lagi saya angkat dua jempol, tangan dan kaki *jatuh gubraak donk*, untuk temen2 yang pinter bikin puisi. Atawa short story sampe beratus halaman dalam hitungan hari. Sementara saya bikin tulisan beginian aja, mesti cari kata2nya aja susah, pake acara bolak balik edit/DELETE lagi.. hi.hi..

Wed 19th Apr, 2006, Daily

Being Generous…

Being generous itu ternyata susah-susah gampang yach. Dan nggak selalu membuat orang comfort. Contohnya hari ini. Berhubung persediaan buah bos2 saya habis, saya diminta untuk membelinya. Dengan sok generousnya saya mencoba invite beberapa teman disini untuk ikut shopping *sorry banget ya Ma, Le, Fer*. Begonya saya baru realize bahwa saya telah mengajak orang terlalu banyak, padahal saya merencanakan akan naik taksi *mobil Binawan fully booked*. Walhasil rencana jalan2 ke Carefour siang ini menjadi batal, di samping memang nggak keluar exit permit dari big boss.

Sempat juga saya merasa bersalah setelah beberapa temen disini tahu tentang usaha sampingan "Juice Corner" saya..he..he.. Karena masih belum pengalaman, momen2 pertama saya membuatnya terlalu banyak, sehingga tersisa beberapa gelas. Yang pernah kecipratan rejeki akhirnya hanya beberapa gelintir orang. Temen2 Akademik *halo teh, ndri, ris..* tapi dengan syarat bolehnya pakai cangkir :-) . Satunya lagi Wijil karena kebetulan dia lagi ada di ruangan bos saya & memergoki saya lagi memproses jus.

Saya masih merasa berhutang sama Irma *kedip-kedip Irma* yang pertama kali menemani saya belanja blender, gelas dll perlengkapan jus karena justru dia belum pernah merasakan jus buatan saya. Tetapi untungnya ia juga nggak terlalu tertarik dengan isi jusnya yang katanya "jus orang sakit", tul kan Ma?. Susahnya saya terikat oleh Pakem bahwa yang berhak menikmati jus buatan saya adalah bos saya 2 orang itu, + saya kalo ada lebih, + Prof. Azrul dan Puteri (kalo Prof. lagi datang). Plus special order dari bos saya, misal untuk tamu/bos2 sini yang lagi berkunjung ke ruangannya.

Jadi hubungannya dengan generous adalah kalo untuk soal yang satu ini (nyobain jus lt. 3), sorry banget nih… saya nggak bisa being generous, meskipun saya pengen banget. Masalahnya saya terikat oleh Pakem tadi. Tapi tenang ajaa.. kalo emang lagi ada lebih-lebih, ntar saya kasih info deh.. Coz i like being generous, berpahala kan?

Tue 18th Apr, 2006, healthy inside

Resolusi hidup SEHAT.. ouch!!

Mengakhiri tahun 2005 kemarin, dengan sedikit was-was, saya pergi cek darah lengkap ke laboratorium. Niatnya cuma satu, umur udah makin tuwir, pastinya onderdil2 dalem juga udah makin keropos. Alhamdulillah hasilnya menggembirakan, ginjal bagus, kolesterol masih jauh, gula darah saya juga msh oke. Meski suami saya sempat nyindir: ngapain sih Na, umur masih segini udah pake acara periksa darah segala!! Hooohh… *bingung*. Padahal saya nggak cerita kalo salah satu sahabat saya yang badannya kurus kerempeng ternyata kolesterolnya 220!! Adik ipar saya yang umurnya dibawah saya juga baru aja ketauan asam urat & kolesterolnya hampir 250! Ipar saya satu lagi masih seumuran saya juga gagal ginjal dan harus cuci darah karena sejak muda hoby banget minum teh botol & fanta/coke dsb.

Bottom line-nya, saya hanya ingin mulai aplikasiin hidup lebih sehat di th. 2006 ini, dimulai dari yang paling simple. Mengganti teh manis pagi & sore hari dengan yang plain *pahit banget bok, hhuueeekks*. Awal2nya sulit juga karena udah 30 thn ini teh manis selalu menjadi awal semangat saya di pagi hari *sugesti*, nggak minum teh manis panas rasanya nggak jooss!!. Tapi apa boleh buat, tekad sudah bulat. Saya mesti mencanangkan resolusi ini secepatnya: 1. mengurangi konsumsi gula dan karbohidrat, 2. STOP jajan soft drink & junk food, 3. menambah porsi makanan berserat, dan kalo sempet olah raga *nggak sempet*.

Urusan karbohidrat juga rada susyah nih karena saya penggemar berat aneka macam roti, cake dan mie :-) . Dari dulu makanan seling saya kebanyakan roti. Mata dan air liur saya pasti nggak bisa kompromi kalo udah ngeliat etalase roti & cake di bakery seantero Jakarta ini. Tapi lagi2 saya harus ngerelain mereka pergi demi kesehatan. Jadi kalo dulu ke Olala pesennya danish or chicken kiev, sekarang saya mesti rela2 ngegantinya dengan tuna salad. Saya juga harus rela cuma ngelewatin outlet Saint Cinammon *my favourite Almond Cinnamon* and Cake Talas-nya Eaton kalo lagi ke PS. Udah berhenti langganan Sari Roti di rumah. Sesekali beli roti tawar, dan itu harus roti gandum. Tapi sumpah!! Sumpah saya bener2 masih suka ngga bisa nolak kalo disuguhin tiramisu or any other chocolate cakes..:-(

Tomat, wortel dan slada sekarang jadi 3 benda yang nggak boleh kosong persediaannya di kulkas saya. Buah2an juga. Kalo lapar datang, mereka2 itulah yang saya sikaaat. No vetsin at all!! Karena jajan di luaran or even makan di kantor pastinya mereka masak pake vetsin biar yummy, jadi kalo di rumah sama sekali saya tidak mau sedia vetsin, jajan bakso/mie ayam/soto juga minta nggak pake vetsin. Saya bahkan sekarang sudah nggak tertarik sama sekali dengan teh botol, fanta, coke kalo lagi kehausan di pinggir jalan maupun makan di restauran & teteeuup milih aqua sebagai pelepas dahaga.

Alhamdulillah 2 orang bos saya di sini ndilalah *ini bahasa jawa lho* koq ya sepakat dgn resolusi saya ini. Mereka kumpak ingin selalu tersedia jus buah setiap pagi dan generousnya saya boleh ikut menikmati jus buatan saya sendiri :-) . Jadi kulkas di ruangan bu Ida senantiasa terisi oleh wortel impor, apel malang, tomat dan jeruk nipis. No sugar added.. mmhh… yummy.

Yaahh, kita cuma berusaha aja, kan..?  Saya cuma percaya, apa yang kita tanam, itu yang kita tuai dan setuju banget sama prinsip sehat itu mahal. Paling enggak motivasi saya cuma satu: saya kepingin banget bisa sempet liat kedua anak saya grow up, get married n having kids. Dan itu cuma bisa diachieve kalo jasmani n rohani saya sehat, sampe tuwir. Simple as that!

Mon 17th Apr, 2006, Daily

Phylosophy of cartoons

Karena long week end yang lalu sudah habis2an, jadinya 3 hari kemarin kami putuskan untuk stay at home. Pertama karena my baby Farrel badannya panas. Kedua kakak Dafa Rabu besok mid-test. Yang terakhir, and paling klise.. karena pundi2 sudah menipis bin bokek :-) . Secara udah dipinjemin beberapa DVD oleh temen2 saya yang baik hati *tingkiu tante Adis, tante Ami for desperate housewifenya* jadinya kita rame2 nonton DVD aja. Saya penasaran juga dengan akting Reese "Oscar" Whiterspoon di Walk The Line.

ICE AGE. Cartoon ini jadi box office di Amerika *ngintip di detik.com*. Sehari sebelumnya saya dan Dafa sempet nonton behind the scenenya Ice Age 2 di Jak-TV, how amazing!! Anakku itu curious dan amazed bgt dengan teknologi pembuatannya *salute!!*. Gimana dari sketsa di kertas, trus dibikin reliefnya, lalu relief itu discan, and di put di komputer. Selanjutnya kyk lagi main game komputer aja, para animator2 amrik gila itu nyambung2 dialog, mimik, and adegan2 yg tiba2 muncul di layar besar jadi suatu film yang seru abis, menegangkan, and looks like real. Anjrriiiittt!! Husshh..

Balik lagi ke Ice Age, emang top abis kalo bicara genre film barat. How they make cartoon movie yang penuh dgn tawa and kocak abis, khas untuk anak2 tapi dengan begitu banyak filosofi di dalamnya. Kita bisa lihat Sid dengan tingkah konyolnya tapi sangat loyal n helpful, si Mandy "mamooth" yang bijaksana & terkesan strong (tp berkaca2 matanya saat melihat lukisan keluarga mamooth di dalam Gua es pada saat mrk tersesat). Filosofinya: mau kemanapun kalian semua merantau/pergi jauh dari keluargamu, oleh sebab apapun kamu pergi ninggalin mereka, mo slack ama keluarga seberat apapun… teteeeeuup aja kalian pasti akan selalu teringat dan balik lagi ke keluarga elo.

Filosofi Diego juga nggak kalah menarik. Gimana seseorang (or seekor..?) yang tadinya berniat jahat, otaknya sudah penuh dgn rencana jahat, seketika bisa berubah, bahkan akhirnya betrayed ke Komandan Harimaunya, hanya karena hutang budi.

Overall, film ini selain bisa untuk lebih menambah quality of time saya dgn anak2, yang terpenting adalah pada hari itu anak saya juga mendapatkan beberapa hal baru dalam hidupnya : hi-tech, some phylosophy of : friendship, helpful, being struggle (menempuh perjalanan untuk mencari keluarga bayi imut itu dgn begitu banyak cobaan & rintangan), how to survive and yang terpenting adalah it’s about loving each other. Another recommended cartoon are Series of Lion King (a very nice movie and beautiful soundtrack), Shrek, Jungle Book, Finding Nemo, The Incredible (one of my son’s favourite, me too).

Terkadang beberapa filosofi hidup lebih bisa masuk ke alam pikiran anak2 kita melalui media seperti film kartun itu, ketimbang kita nyerocos nggak karuan ngasih petuah ini itu setiap hari.. he..he… Jadi saat kami nonton bareng, saat itulah saya sambil menyelipkan pesan moral yang ada di dalamnya. Dengan bahasa mereka, tentunya. Hope it works..