They must be TOUGH - Closing Episode
Berharap ini bisa beneran bisa jadi Closing Episode, karena saya tahu pastinya udah pada bosen, mungkin ketiduran atau malah mau muntah * hueeekkss..* (but i don’t care… go ahead, just throw up.!!..he..he..). Coz i just wanna share it to all of you. No need any comment, no need approval, no need disagreement, no need anything. So could know a part of my self, a part of my life.
Artikel ini saya buat ketika usia saya 35 tahun, hari ini (30 April 2006), ketika saya BARU 7 tahun menjadi seorang ibu. Ketika saya merasa begitu lemah menghadapi anak2 saya, hanya satu kalimat inilah yang muncul di benak saya: They must be TOUGH.
* My beloved kids
kedua anak saya merupakan anugerah paling indah yang pernah Allah berikan kepada saya, dan saya bertekad untuk menjaga titipanNya dengan baik sampai akhir hayat saya,
saya sempat merasa sedih karena hanya menyusui Farhan hanya selama 9 bulan, bukan karena ASI saya habis, ttp karena badan saya demam, dan sesudahnya tiba2 ia tidak mau saya susui lagi, untungnya Farrel terus menyusui sampai ia kini hampir 2 tahun,
saya beruntung Farhan dan Farrel memiliki good sense of humour, yang buat saya amat penting untuk lebih relaistis menghadapi kehidupan mereka kelak,
satu saat saya sempat teramat marah kepada Farhan sampai melempar bukunya, dan sesudahnya saya menyesal, lalu meminta maaf dan memeluknya, kemudian saya pergi ke kamar mandi dan menangis sendirian disana, karena saya yakin saat itu saya telah menyebabkan luka hati yang akan membekas terus di hidupnya,
saya bersyukur, tanpa saya minta, Farhan selalu menunjukkan prestasi terbaiknya di sekolah maupun tempat2 kegiatan lainnya, namun sebetulnya yang terpenting untuk saya adalah kedua anak saya memiliki EQ yang baik, berakhlak mulia, pandai bersosialiasi, pandai memecahkan masalah dan menjadi anak yang tangguh,
Alhamdulillah, meskipun kadangkala berantem, kedua anak saya tampak jelas saling mencintai,saling support, kompak, rukun dan saya berharap selalu begitu sampai mereka dewasa kelak,
** Me and career
saya sempat menyesali keputusan saya (beberapa waktu sesudahnya) untuk menolak tawaran Pak Made (Mantan KaUr Kredit) untuk melanjutkan karir di Bank, maupun membatasi diri untuk tidak lagi berkarir di bank,
saya sempat bimbang dan merasa bersalah ketika pertama kali memutuskan untuk bekerja kembali dan meninggalkan Farhan untuk bekerja,
saya merasa rendah diri terhadap sahabat2 saya maupun ex co-worker saya, yang karena mereka stay tune bekerja di bank, they got promotion and now being on the top of their career,
*** As a daughter
saya selalu teringat sup kimlo yang selalu ibu saya buatkan ketika saya sakit,
ibu saya adalah orang yang benar2 mengabdi, tough, pandai menutupi kesedihan, sangat ahli membuat kue dan senang membuatkannya untuk kami setiap sore, sering membuat joke dengan bahasa jawa timurannya, tapi basicly ia adalah type wanita yang seringkali take something seriously,
saya pernah merasa down ketika mengetahui rahimnya harus dipasang ring, karena letak rahimnya telah turun keluar mendekati lubang vaginanya, yang disebabkan karena melahirkan anak yang cukup banyak dan sering mengangkat beban berat,
dalam setiap sholat saya, saya selalu berdo’a untuk keselamatan ibu saya, di dunia dan akhirat
saya sempat ikut merasa stres dan selalu menemani ibu saya ketika beberapa kejadian tidak enak menimpa keluarga kami, yang membuatnya stress berkepanjangan, di usianya yang sudah tidak muda lagi,
saya merasa saya belum melakukan yang terbaik untuk ibu saya, seperti yang telah ia lakukan kepada saya seumur hidup saya,
*****
Saya baru 7 tahun menjadi seorang ibu, baru 2 anak yang Allah SWT titipkan kepada saya, tapi saya tidak tahu apakah saya bisa as tough as you, mom. Yang dengan tegarnya 5 kali melahirkan tanpa ditunggui oleh Bapak *saya nggak respect bgt dengan bapak karena yg satu ini*, yang dengan tangguhnya mensupport bapak untuk menunjang kehidupan ekonomi keluarga kami, yang dengan keibuannya melindungi dan mengayomi kami, yang dengan bijaknya menutupi setiap masalah yang muncul, yang pastinya memiliki kesabaran hati dan ketegaran jiwa dalam menghadapi ke 5+1 sifat dan perilaku anak2nya, yang benar2 berkorban jiwa raga untuk kami sekeluarga. I really adore and envy you for that, mom… *crying*
*****
Begitu banyak kekurangan saya sebagai ibu (& mungkin sebagai isteri) selama ini. Begitu rendahnya kesabaran saya dalam menghadapai "keunikan" anak2 saya. Begitu lemahnya saya dengan keluhan2 saya selama ini, bawel saya selama ini. Begitu inginnya saya berkorban peluh dan tenaga saya untuk mereka setiap hari. Begitu inginnya saya memeluk erat dan mencium mereka setiap saat dan begitu bahagianya saya ketika mereka berbuat hal yang sama. Begitu berartinya mereka bagi saya…
*****
Ternyata,…
saya bersyukur karena saya masih bisa menangis dan menyesali kesalahan saya,
saya sangat yakin bahwa apapun keputusan yang telah saya ambil akan memberi kebahagiaan untuk diri saya sendiri dan keluarga kami,
saya adalah orang yang paling beruntung di dunia karena bisa mengalahkan karier dan harta teman2 maupun sahabat2 saya, hanya dengan bermodalkan 2 orang malaikat kecil saya, seorang suami yang teramat sangat baik *i love u, honey* dan perkawinan hampir 10 tahun kami…
*****
Awalnya saya sempat bingung untuk menempatkan artikel ini, karena bbrp isinya bertutur ttg karier pekerjaan saya *should i put this in "woman-in career" or "woman-being mom"*. tetapi akhirnya saya memilih yang kedua, karena ternyata pengalaman saya menjadi seorang ibu lebih memperkaya batin saya dibanding menjadi wanita karir. Namun being a real mom or not, being a mom + a career woman or being a real career woman only, semuanya adalah pilihan kita masing2 dan tidak ada satupun yang buruk. Keduanya tetap menjadikan kita wanita sejati.
Mengcopy kalimat pembuka diatas…
Artikel ini saya buat ketika usia saya 35 tahun, hari ini (30 April 2006), ketika saya BARU 7 tahun menjadi seorang ibu. Ketika saya merasa begitu lemah menghadapi anak2 saya, hanya satu kalimat inilah yang muncul di benak saya: They must be TOUGH.
Saya kemudian bertekad, untuk occasionally (maybe once in 5 years), ingin mereview, berkaca, merenung, mengkritik diri sendiri, menertawakan diri, mengup-grade, memotivasi diri untuk dapat berbuat lebih baik dan lebih baik lagi menjadi seorang ibu. Do’akan saja saya masih bernyawa, masih diberi nafas oleh Allah, masih memiliki tangan untuk menulis, masih punya akal untuk berpikir, untuk bercerita sekelumit tentang sebagian diri saya.
Dan mungkin 5 tahun mendatang, saya akan bercerita mengenai Farhan yang memasuki usia pubertas, mulai bertanya ttg sex lebih mendalam, mulai tertarik lawan jenis, mulai dengan dunianya sendiri (teman2nya), sementara Farrel mulai memasuki dunia sekolah. Dan kemudian 5 tahun sesudahnya ketika Farhan mulai punya SIM, makin expert ttg sex, mulai digoda oleh "narkoba" maupun "perempuan", mulai berani berdebat dengan kami. Dan bahkan 5 tahun sesudah sesudahnya lagi, ketika Farhan mengalami ketatnya persaingan mencari kerja, menghadapi masalah2 hidupnya yg makin kompleks, dan Farrel memasuki usia puber dan mulai didekati lawan jenis, dan seterusnya..dan seterusnya…
*****
Ternyata Allah memang sangat sayang pada saya. Saya terpilih diantara jutaan orang di dunia ini, untuk menjadi seorang ibu. Saya hanya ingin memberikan modal agama yang kuat untuk kedua anak2 saya, supaya mereka nggak salah melangkah, nggak mudah lengah dan tergoda, tough enough untuk menghadapi beraneka macam persoalan didalam hidupnya kelak. Memberikan pendidikan yang terbaik untuk mereka supaya mereka bisa survive di dunia nyata sana, supaya bisa being struggle. Saya selalu berdo’a so that i can be as tough as you, mom. So they can always be my angels who always pray for me ’til i face you, God.. Amiiiin.
*****
This story is dedicated to my 2 beloved children, FARHAN ANDAFA and FARREL ANDANA.
Love you always, nak…
*** Bunda Nina - Jakarta, April 30′ 2006***