Mon 28th Feb, 2011, Daily

New role, new route, new problem

NEW ROLE

Life is surely an adventure. Also kind of a mistery. We left all behind and go forward without knowing - no anything. Every moment happens misteriously, beautifully on HIS way.

My new role sort of describe those life of me. After last 15 years dealing with administration/purchasing/GA/HR and a bit finance, I unexplainably was sent to this place and has to deal with something mostly I dislike called …a——-g…. emoticon

Wise men said life begin at forty, hhmm.. then I tought he was right this time. New role, new entry, new status…. Na na na na na… got to enjoy this moment, got to reach the spirit, the scent, the atmosphere.

NEW ROUTE

Actually it doesn’t new route for me. I had gone here back and forth on weekdays for about 5 years-16 years ago. The difference is that the traffic now is getting crazy..more day. Luckily, many public transportations have set up already. At least it solves one of my problem.

NEW PROBLEM

I think problems will always be with us whoever we are, wherever we are and whenever it is. The important thing is how we can always minimize it. Try to throw them into the trash bin at our very first moment.

So, this whole thing would be gratefully I welcome, as my recumbence to Allah SWT, as HIS blessing. Alhamdulillah I passed the year contract. emoticon

ALHAMDULILLAHI RABBIL ALAMIIN… emoticon

 

 

 

 

Thu 24th Dec, 2009, Daily

Missing Rina

Hhmm… kata-kata ini sebetulnya kedengeran biasa-biasa aja, tapi buat saya terkesan luar biasa.

Saya nggak pernah merasa seberkah ini ketika beberapa teman-teman mengklaim saya menghilang dari orbit, mengaku kangen berat ke saya dan ketika berhasil menangkap saya langsung menyapa saya dengan : "Rinaaaaa… kemana aja sih elo ?????"… bweeeheheheeehehehee..

Ya, saya akui saya sedikit (masih ngeles) menghilangkan diri dari pergaulan. Meminimalisir (halaah..) kegiatan hang out dengan teman-teman. Bukan untuk memutus tali silaturahmi, naudzubillah min dzalik.. nggak boleh lah lakuin itu, bisa dosa besar saya. Tapi untuk satu alasan yang masuk akal untuk saya, yang memang harus saya lakukan, satu alasan kuat yang nggak bisa saya share disini.

Secara pribadi saya merasa kehilangan mereka, tapi saya nggak berpikir mereka akan merasakan hal yang sama. Saya nggak merasa kalau saya adalah orang yang tepat untuk dikangeni, saya pikir saya bukan orang yang menyenangkan untuk dingat-ingat…hehehee…

Tapi alhamdulillah ternyata ‘penggemar’ saya lumayan berjibun. Secret admirer saya ternyata ada juga. Karena begitu sesekali saya memunculkan diri di FB ataupun YM….. hiiyyaaaahhhh!!. tiba-tiba mereka semua langsung membombardir saya dengan kata-kata mesra itu…. bwahaahahaaaahaa.. Dan setelah itu, saya kemudian menghilang lagi… :-P

Teman-teman, I do miss u all. I really do, honest. Tapi saat ini saya harus melakukan ini. Nantilah yaww, pada saatnya, kalau waktunya tepat, saya akan eksis lagi di tengah-tengah kalian. Sahabatku, saudaraku semuanya, kalian semua……

 

 

Thu 24th Dec, 2009, being mom, their career

New place; new (un) comfort zone ?

Hari ini adalah hari ke 21 saya disini. Bekerja lagi. Ya, bekerja 9 to 5 lagi.

Saya mendeskripsikan tempat baru ini sebagai ’sekolah’ saya yang berikutnya. Ketemu lagi dengan expatriate(s), bergaul lagi dengan bule-bule. Hanya bedanya, atasan bule saya yang dulu berstatus karyawan juga, sama seperti saya. Jadi kalau sesekali saya (mungkin) nggak perform, maksimal dia hanya bisa ‘protes’ lewat performance appraisal sheet saya…hehe..

Sedangkan kali ini kebetulan bulenya selain EVP yang karyawan, tapi juga bule yang punya perusahaan… hadooh.. Jangan sampai saya nggak perform.. hhmmff.. bisa kacau dunia persilatan.. alias suddenly fired!!!

Belum tahu bagaimana nasib probation period saya kali ini. Karena ternyata baru 1 minggu saya disini sudah 3 orang resign. Dan akhir bulan ini 2 employees way to go. Hayaaahh… Memang sedikit aneh sikap owner kantor baru saya ini, kategorinya diatas unpredictable. Melebihi atasan bule saya dulu itu yang berlabel moody dan so-called mostly cranky. Karena jangankan saya, beberapa karyawan yang sudah ‘jamuran’ disini aja masih suka ketakutan dan sepakat memberi cap ‘aneh’ juga untuk RM ini…. bwheheheheee…

Secara jabatan, kali ini saya bukan pejabat, no problemo…

Secara grade, masih sama levelnya…

Secara lokasi, hhmm.. lebih jauh puluhan kilometer,..hehe.. meskipun masih di area jaksel juga tapi kali ini saya nggak bisa bike 2 work ke kantor

Secara angka, hhmmm… no comment..

Alhamdulillah, hare gene, ‘nenek2′ kayak saya cari kerja masih ada juga yang minat. Karena saya cukup sadar dengan usia, belum lagi dengan keputusan berjilbab yang saya pikir lebih membatasi kesempatan karir saya, tapi ternyata enggak. Bahkan disini jumlah karyawan berjilbab cukup banyak, hampir berimbang dengan yang tidak berjilbab. Dan alhamdulillah rekan-rekan kerja disini menyenangkan.

Saya nggak tau ke depannya gimana. Satu yang saya percaya, Allah pasti yang paling tahu yang terbaik untuk saya. Tugas saya cuma berusaha, kerja dengan baik dan amanah seperti yang sudah-sudah saya lakukan, berdo’a untuk kemudahan dan sisanya adalah… urusan DIA…

So, hopefully this new place would be my new comfort zone, instead of uncomfortably one… Amin..

+++++

Btw, kegiatan dagang berdagang tentunya masih berjalan seperti biasa. Toh di STEKPI skedulnya hanya hari minggu. Malah saya mendapat market baru disini kan..hehe.. Lumayanlah, kemarin laku beberapa potong baju.

 

 

 

 

 

Thu 12th Nov, 2009, Daily

J.u.a.l.a.n

Memasuki babak (cobaan) baru setelah memutuskan resign dari kantor saya beberapa waktu lalu, saya mencoba berdagang alias jualan.

Sebetulnya pada dasarnya memang saya senang jualan. Inget jaman kuliah dulu (saat SKS udah tinggal dikit dan sedang mulai nyusun thesis), saya memutuskan untuk coba2 ngajar bahasa inggris private untuk anak-anak SD. Mulailah saat itu saya coba bikin brosur sekedarnya, menulis isi brosur (dalam bahasa inggris sederhana), mengetik dan mencetaknya dengan kertas warna warni. Besoknya langsung saya sebar di komplek rumah saya dan beberapa sekolah dasar swasta di deket rumah. Alhamdulillah 3 hari kemudian ada yang merespon. Meskipun murid pertama saya saat itu hanya 5 orang di rumah (ibu) saya, tapi buat saya anugerah luar biasa, dan saat itulah saya mulai menyadari bahwa sebetulnya saya berbakat jualan. Dari mulut ke mulut akhirnya murid saya bertambah 3 orang (private di rumahnya) dan kegiatan mengajar anak-anak (kecintaan saya lainnya) bertahan sampai saya diterima bekerja seusai wisuda (kurang lebih 1 tahun).

Saat kerja di salah satu bank swasta, naluri bisnis (jualan) saya juga terus berkembang. Mulai dari yang menggunakan modal (sedikit) sendiri seperti tupperware sampai "meneruskan" hasil dagangan orang lain. Misal : penjual sprei di kantor senang sekali saya bantu tawarkan dagangannya dengan imbalan fee Rp. 5.000/sprei. Karena lokasi kerja di gedung yang terdiri dari grup perusahaan, ada aja pegawai kantor lain di satu grup/gedung yang menawarkan dagangannya, mulai dari panty, frozen food, pakaian, buku, sampe saham dalam jumlah kecil…hehehe.. dll. Walhasil saya coba tawarkan lagi ke karyawan lain, tentunya dengan menaikkan sedikit harganya. Senang rasanya kalau barang yang kita tawarkan laris manis. Dari usaha kecil ini saya sampai mempunyai account tabungan khusus, alhamdulillah.

Awalnya saya bersama sahabat SMA berencana membuat tas dari bahan/kain tradisional Indonesia. Dan kemudian berkembang juga menjual baju-baju batik dengan motif batik modern/gaul untuk dewasa dan anak-anak. Alhamdulillah berkembang cukup baik. Ada beberapa pesanan tas dan juga baju batik.

Namun karena kondisi saya saat ini yang tidak memungkinkan dan agar dapat lebih fokus, baik ke bisnis maupun mengurus suami dan anak-anak, sekarang saya lebih berkonsentrasi berjualan baju anak-anak branded sisa ekspor/FO kecil-kecilan. 

Kami memiliki stand di Pasar kaget hari Minggu di area kampus STEKPI (kalibata). Alhamdulillah hari pertama menggelar dagangan saya memperoleh omset Rp. 435.000,-. Buat orang lain mungkin sedikit, tetapi untuk kami angka sebesar itu cukup lumayan dan membuktikan bahwa barang/baju2 yang kami jual diminati oleh konsumen.Setelah itu rata2 omset baju FO saya berkisar antara 500 rb - 800 rb per hari (kira2 10-20 potong baju). Alhamdulillah kami sudah memiliki beberapa pelanggan tetap di lapak sederhana kami itu.

Selain di STEKPI, pada hari kerja saya juga melakukan door to door ke kantor2/perusahaan di area jakarta selatan. Dengan kualitas barang branded/sisa ekspor dan harga yang saya jual relatif murah, dalam satu hari saya dapat melakukan transaksi penjualan sampai dengan Rp. 800.000,- s.d Rp. 1 juta/ kantor. Selain melakukan penjualan direct langsung, saya juga coba menjalin hubungan dengan salah satu karyawan di kantor2 tersebut dengan sistem titip jual dengan imbalan fee. Keuntungan berjualan di kantor antara lain, kepastian membayar, ibu-ibu kantor mostly "laper mata" kalau lihat baju untuk anak2, nggak pake ditawar alias money doesn’t matter karena memang murah meriah).

Hanya saja ada beberapa kendala berjualan di kantor, antara lain:

1.  Hanya dapat dilakukan pada jam istirahat dan/atau sore menjelang pulang (jam 4an).

2. Kalau dijual pada tanggal muda (antara tgl 25-30) bisa cash basis, tetapi diluar tanggal tersebut rata2 ingin bayar pas gajian, yang tentunya menghambat perputaran modal.

3. Agak sulit memprediksi stok baju apa yang dibawa karena setiap kantor memiliki market sendiri2 (ada yang banyakan punya anak perempuan, ada yang anak laki, ada yang anaknya sudah besar2/masih kecil), sehingga pada awalnya saya masih meraba2 dan spekulasi dengan stok barang bawaan.

4. Agak sulit melakukan repeat order karena konsumen tidak akan membeli barang yang sama, bukan? Dan itu artinya saya harus pandai-pandai mencari jaring market yang baru. Atau mencari stok baru, yang agak sulit direalisasikan karena berkenaan dengan penambahan/perputaran modal.

Alhamdulillah sampai saat ini masih berjalan dengan lancar. Saya lebih memilih untuk memperbanyak item/model barang tetapi dengan quantity/seri sedikit, dibandingkan menyetok jumlah yang banyak untuk satu model/item. Omset rata-rata mencapai Rp. 10 - 12 juta/bulan.

Namun kendala terberat yang saya hadapi adalah modal. Tapi nggak apalah, meskipun kecil-kecilan dan belum dapat berkontribusi secara financial terhadap income keluarga, tapi saya bersyukur dapat memperoleh ilmu baru, bisa mengaplikasikan ilmu yang saya peroleh waktu kuliah di ekonomi (sourcing, budgeting, cashflow, market, dll) dan juga menambah networking (teman2 pembeli, teman2 sesama pedagang, vendor dll). 

HHmm.. Cita-cita saya ingin sekali satu hari nanti bisa memiliki 1 outlet kecil di pasar/ITC/mall…hehee.. Mudah-mudahan niat baik ini diridhoi Allah SWT. Amiin..

 

 

 

 

 

Thu 25th Dec, 2008, healthy inside

Bersin - Gatel - DIET

Belakangan ini alergi saya terasa agak menyiksa. Karena saya ada sinus, jadi menurut dokter kekebalan tubuh saya terhadap penyakit agak rendah (ciiuuuttt banget pas dokter bilang cuma 50%… waakks..?? Itu mah bukan agak kali dok, tapi "agak hampir sangat"…halaahh..). Pantesan aja saya jadi gampang sakit. Temen kantor ada yang batuk pilek, besoknya saya batpil. Anak saya flu, saya ikutan flu juga. Anak saya cacar, saya juga kena cacar.. Kacau deh..

Demi menjaga vitalitas dan menambah kekebalan tubuh saya, saya memutuskan untuk ke mak erot dan minum extra j — ss …. hahaha… enggak dink (iklan banget!). Satu hari saya memutuskan untuk mencoba diet menurut golongan darah B - khusus untuk penderita alergi - berdasarkan buku karangan Dr. P—-r J’A—-o (hasil googling dan baca-baca seharian di toko buku).

Dan inilah summarynya:

1. Daging kambing/domba

   Ternyata saya sangat dianjurkan mengkonsumsi daging kambing/domba. Yeee, padahal sesuai resolusi sehat saya sejak 2 tahun lalu, saya justru menghindari makan daging merah (sapi, apalagi kambing, soalnya takut kolesterol) dan cuma makan ikan/ayam.  Tapi setelah dipikir-pikir, keknya om Peter bener juga. Belakangan ini kulit saya lebih sensitif, sering gatel2/iritasi, mungkin karena makan ayam. Terus juga tensi darah sering rendah, berarti emang butuh makan kambing….*maksa mode on*.

Pelajaran moral 1 : sekarang jadi benci liat ayam (sorry deh yam…).
Kalo ke warung padang berusaha gak ngiler mesen ayam bakar, kalo beli sate pindah dari sate ayam ke sate kambing, makan bubur ayam gak pake ayam, makan mie ayam pangsit favorit saya juga gak pake ayam..coba deh bayangin apa enaknya cobaa… tersiksanya dirikuuu… Tega bener sih, dok… Yang paling susah kalo pas ada yang ngajakin ke KFC… halaaahh, gimana coba…

Pelajaran moral 2 : mulai gedeg sama Dr. Peter…

 2. Seafood

 Lagi-lagi Dr. Peter menambah runyam daftar menu saya. Okay lah kalo ikan laut boleh karena saya suka hampir semua ikan laut (terutama tuna, tongkol, bawal putih, kakap, gindara, tenggiri dll). Tapi nih, om Peter nganjurin untuk merem mata liat udang dan cumi… Wadooh, gak bisa lagi nongkrong di warung siput (baca: sea food) dan mesen udang goreng mentega/ cumi saus padang/calamari/rempeyek udang. Huuaaa… nangis guling-guling…

 Pelajaran moral : tambah gedeg ama si Peter (mulai nyebut nama, gak usah pake dokter…)

3. Brocolly, wortel, tomat, jagung manis

Untungnya brocolly dan wortel amat dianjurkan, secara saya amat mencintai kedua antioksidan dan betakaroten itu. Tapi tomaat… Ya Allah, padahal biasanya setiap hari, pagi dan malem, saya minum juice tomat+wortel tanpa gula tanpa susu pake es batu banyak. Trus juga hobby banget ngemilin tomat dan selada (lettuce). Jagung manis ??? Enak banget gitu, gak boleh?? Bikin bakwan jagung pake jagung manis, trus masak sayur asem jagung manisnya sengaja dibanyakin, makan salad juga jagung manis printilnya ngambil seabrek2… Kudu dihindariii..? Ya Allah… bener-bener deh…

Pelajaran moral : mulai meragukan hasil penelitiannya … hehehe… enggak kok, dok…

4. Kacang-kacangan

Ternyata kacang kedelai juga pencetus alergi. Jadi tahu, tempe dan sodara2nya seperti kecap sampai susu kedelai sebaiknya dihindari. Yang dianjurkan malah "keluarga" kacang2an yang namanya banyakan saya nggak ngerti karena adanya di negeri sana (amrik/eropa), mungkin disini juga ada tp gak familiar. Ada juga sih beberapa yang tau, seperti kacang garbanzo. Karena kebetulan waktu pernah punya boss orang Australia, saya sempat dapet rejeki beberapa makanan kaleng, salah satunya ya kacang garbanzo itu tadi (psstt… tapi suueerr… waktu itu bingung mo dimasak apa..hahaha..).

Sedihnya lagi gandum masuk kategori netral, bukan dianjurkan. Padahal roti favorit saya roti gandum. Tapi saya masih tetep makan roti gandum dan cereal juga sih sepanjang masih masuk kategori netral. Untungnya kacang tanah dan kacang merah juga masuk kategori yang diperbolehkan.

Pelajaran moral : nggak ada kedelai, keledai pun jadilah…

5. Minyak

Dianjurkan menggunakan minyak zaitun/olive oil. Dooohh, langsung ngebayang price bandrollnya. Meski lumayan mahal, tapi demi sehat wal afiat, saya bela2in beli olive oil, yang ada kode HALAL-nya, yang botolnya paling keciiill… hahahaa… (250 ml olive oil = 2000 ml minyak goreng kelapa sawit). Minyak zaitun ini khusus untuk saya sendiri aja. Untuk numis sayuran saya, untuk goreng ikan/daging 1 biji, goreng telur untuk saya atau bikin dressing untuk salad (tinggal ditambahin peresan jeruk lemon..). Sementara untuk suami dan anak2 saya teteeuup pake minyak kelapa sawit… *ngirit*

Pelajaran moral : sehat itu mahal, kawan…

6. Susu

 Alhamdulillah hampir semua susu boleh kecuali susu kedelai itu tadi. Karena saya milk lover, dari kecil sampai sekarang saya sangat mencintai susu. Tapi ternyata susu yang terbaik untuk saya adalah susu hasil fermentasi, seperti yoghurt. Jadilah sekarang saya menyempatkan diri mampir ke rak yoghurt saat belanja di supermarket.

Pelajaran moral : yogh.. yogh… go yogghh.. goo…

+++++

Tapi ya namanya manusia, kadang ada khilafnya… setujuuu bapak/ibu..???

Beberapa kali saya ngelanggar aturan mainnya om Peter *ngaku*

Makan mie ayam pake ayam, meskipun pake bakso juga…hehe.. (soalnya yang enak kan kuah ayam semurnya itu, dok)

Gak bisa nahan liat udang, minggu lalu di pesta kawinan makan tom yam seafood… (sorry, dok..)

+++++

Meskipun saya masih belum tahu keabsahan (mungkin ada yang udah tau, pls comment..) hasil penelitiannya Dr. Peter ini, saya Bismillah yakin dengan pendapatnya, karena bukunya udah beredar di seluruh dunia, jadi best seller pula alias naek cetak berkali-kali.

Tapi ya itu tadi, harusnya emang kita ikuti skedul dietnya secara disiplin dan kontinyu, supaya hasilnya juga efektif. Misalnya minggu I gimana, minggu II gimana, trusss aja ikutin..  

Saya masih pemula, makanya kadang masih ngelanggar. Dooh, susah juga ternyata. Tapi Insya Allah saya akan mulai deh, dok. Saya ingin banget "membasmi" masalah alergi (baca: bersin - gatel) saya yang mulai mengganggu kehidupan saya ini. Insya Allah kalo niat saya pasti bisa. Jadi saya gak bakalan bersin 5-7 kali tiap bangun tidur pagi/kena debu, suara gak sengau karena hidung mampet, trus gak garuk-garuk kegatelan lagi.

Masalahnya kadang lingkungan sekitar suka kurang mendukung. Ada aja komentar kiri kanan. Misalnya : "Yaelah rin, milih-milih makanan banget sih, udaaahh embat aja…!!". Padahal kan komen yang saya harapkan adalah : "Ayoo Rin, mau makan dimana, sini gue bayarin…"… hahahahaaa..

 

 

Wed 5th Nov, 2008, Daily, their career

I have (had) been there

Kata ini seringkali kita pakai pada saat kita (mungkin saya, tapi biar lebih rame mendingan pake "kita" ajalah ya…) pernah berada di suatu tempat/lokasi. Seperti teman saya ketika saat SMA kami ramai-ramai liburan di Bali, dia langsung memburu kaos bertuliskan "I’ve been to Bali, too".. hehehee…, saya sendiri juga beli, malahan saya beliin juga buat oleh-oleh kakak-adik saya, yang padahal jelas-jelas saat itu nggak ikutan ke bali.

Pagi ini ketika saya selesai finger print absen dan berjalan menuju ruangan kerja di lt. 2, tiba-tiba saat itu saya menyaksikan dengan seksama (halaaah..) pemandangan seluruh gedung kantor saya, mulai lantai di main lobby, menyimak lokasi2 ruangan kelas yang saya lewati dan juga ruangan kerja. Hhmmm.. tiba-tiba saya notice kalau ternyata saya sudah pernah merasakan hampir seluruh lantai di gedung ini. Rasanya saya patut mendapat piagam penghargaan karena saya dapat menyebutkan daftar panjang I’ve/I’d been there - daftar panjang ruang kerja yang saya tempati selama 3 tahun saya bekerja disini, yaitu :

# I’d been at 1st level, then to 3rd floor, go down to 2nd level, (back) to 3rd floor and finally go back down to 2nd floor…(aarrgghhh…)
Jul-Dec’05, tepatnya di ruang Dekan Keperawatan, 1 area dengan (expatriate) Nursing Dean from UTS, Australia. Hehe… Bule ini baek banget meskipun sedikit moody, she is single, vegetarian dan  sama sekali tidak berbahasa indonesia. Tapi seru jugalah.. Lalu naik ke lt. 3, as a Secretary for Vice Chancellors, about a year. Asli solo karir sekitar 6 bulan, sampe akhirnya dapet temen seruangan. Setahun berikutnya turun ke lt. 2, ketika Alhamdulillah dipromosiin jadi admin manager di BLC, seruangan dengan staf baru dari luar, need adjustment for a while, untungnya laki-laki jadi gak ribet, tapi belakangan malah akrab kayak sodara (alo yot..). Hhmm..saat itu mulai gondok karena pindah-pindahan.. *wink*. Ribet soalnya, mindah2in kompi, ngeset ulang PC, ngerapiin dokumen-dokumen yang penuh and berantakan, ribetlah pokoknya. Tapi masih rada excited karena dapet tantangan baru even kudu get melted dengan komunitas baru juga. Setahun berikutnya (back) to 3rd level.. (huuaaaa…*nangis guling2*), dapet promosi dikit tapi lebih pusing mikirin hal lainnya. Kayaknya ruangan ini emang diciptakan untuk saya, kok yaaa balik-balik lagi kesini. Even udah begging pengen tetep di lantai 2 tapi gak diapprove. Untungnya saat itu ruangannya udah dingin, meskipun jadi (agak) berantakan sepeninggal saya. Promosi kali ini rada crowded karena tambahan problem ttg masiwa plus makin gak jelasnya nasib ke depan. Nggak lama setelah itu…hehehehhee… pindah lageee…. (kali ini udah pasrah…). Balik ke 2nd floor (agaiiinn..!!?! tuh kan beneer…). Jabatan sih tetep sama, cuma dalam rangka efisiensi, jadi kudu efisiensi ruangan juga, mostly integrated di semua departemen. Kali ini kami (saya dan 3 orang rekan kerja) mendekam di satu ruangan kecil, sederetan dengan departemen non-akademik lainnya. Maksudnya juga supaya koordinasi antar departemen lebih efektif dan efisien. Saya sih accept aja, karena niat pengen fokus ngerapiin/benerin departemen ini. Tapi lagi-lagi mau gila saya dibuatnya ketika baru 2 bulan disini saya diminta untuk naik lagi ke lantai 3 dekat dengan big boss… waduuuh.. Tapi Alhamdulillah Allah denger doa saya. Akhirnya bukannya saya yang naik keatas tapi malah akhirnya mereka yang turun kebawah; mereka dan departemen lainnya yang akhirnya pada ngariung rame-rame disini… horee.. hehee..

# I had been there juga pernah saya rasain ketika awal tahun ini dapet musibah nyungsep dibawah kolong minibus kopaja (untungnya rada sisi kiri dan body belakang), sampai jatuh tengkurep dan kaki saya nggak terselamatkan alias kelindes ban belakang kopaja. Sampai mengharuskan saya bed rest total 3 minggu. Asli I had "been" there, yes over there, dibawah kolong kopaja.. heehehee… Saat itu saya beneran pasrah, pasrah kalo Izrail emang mau pick-me up….. *nerawang sambil inget2 lagi tragedi kopaja itu*. Skenario Allah hari itu beneran membuat saya makin yakin akan kuasa Allah dan sekaligus sadar betapa pentingnya asuransi jiwa/kecelakaan .. hehehe.. (Cobaa hayoo… mbak2/mas2 sales agent asuransi jiwa, silahkan datang menghampiri saya…)

# I had been there juga kadang-kadang menyangkut perasaan kita. Had been crying, had been laughing with friends. Buat saya, had been there yang terbaik yang saya rasakan adalah all these spiritual journey yang sampai saat ini masih terus menemani saya. Yes, I had been there when one day HE lightened me and gave me guidance (hidayah). And the most greatest thing is that I am still following this beautifully spiritual journey of mine.. still… (then i should change into "have been there")… doo..dooo…dooo… I love YOU because of YOU, always….

 

 

 

Thu 18th Sep, 2008, Daily, in Holy Qur'an

Rindu padaMU …

Ya Allah, rindu ini rindu padaMu…

Rindu ingin bersimpuh dihadapanMu…

Rindu yang dalam, bergetar, teramat dalam…

Karena aku hina, aku dzalim, aku lemah, ya Allah…

Ijinkan aku menemuiMu, ya Rabb… Ijinkan aku memelukMu …

Bermunajat, mengucap syukur, bertobat, merengkuh rahmatMu, menggapai ampunanMu, merangkulMu … 

Betapa banyak dosaku, betapa hinanya aku, betapa imanku naik dan turun, betapa kerdilnya aku…

Aku malu, ya Allah.. aku tidak pantas Engkau beri anugerah semua ini, tidak pantas Kau rahmati aku sedemikian ini…

Wahai Engkau Maha Pemberi, Maha Pengampun, terimalah tobatku, terimalah hajatku, ya Rabb…

Ijinkan aku menjadi pelayanMu, berkorban hanya untukMu, berjalan di jalanMu… 

Perkenankan aku menemuiMu, tunjukkan aku jalan kehadapanMu…

berkahilah aku dengan rejekiMu yang halal, rahmatilah aku agar …

agar aku bisa menumpahkan rindu ini.. mewujudkan niat ini, mimpi ini…

Perkenankan aku pergi haji, ya Rabb… MenemuiMu di al Mukkaromah…

Tunjukkanlah jalanMu… Engkaulah yang Maha Tahu yang terbaik untukku…

Ya Allah, rindu ini, rindu padaMu… rinduku untuk berhaji…

" Laa ilaaha illa anta ya muqollibal quluubi tsabbit qolbi ‘alaa diinika wa ‘alaa thoo’atika subhanaka inni kuntu minadzdzolimiin "

(Tiada Tuhan selain Allah yang membolak-balikkan hati (qalbu), maka tentukanlah (tetapkan) hati kami pada agamamu dan menjadi hambaMu yang taat. Maha Suci Engkau ya Allah, dan aku termasuk orang-orang yang aniaya (dzalim))

 

 

 

 

Fri 5th Sep, 2008, Daily, their career

Be a smart worker

Hari gini, sudah tidak zamannya lagi menjadi hard worker alias pekerja keras. Jika ingin sukses, jadilah smart worker.

Apa yang memotivasi Anda dalam bekerja? Punya mobil bagus, rumah sendiri atau membeli barang-barang yang membuat Anda tampil gaya? Apa pun itu, yang pasti untuk mencapainya Anda rela bekerja mati-matian.

Bahkan sampai lupa waktu, lupa makan dan akhirnya terperangkap dalam pekerjaan yang lama-lama mungkin tak Anda nikmati lagi. Namun, apakah kerja keras dan pengorbanan Anda sepadan dengan hasil yang didapat? Jika jawabannya tidak, berhentilah menjadi hard worker. Percuma Anda bekerja keras kalau tidak juga ada hasilnya.

Hard Worker = Tidak Efisien
Dulu, menjadi hard worker memang salah satu cara terbaik untuk mendapatkan perhatian atasan. Anda bisa mendapatkan promosi atau kenaikan jabatan (yang biasanya disertai kenaikan gaji) jika menjadi hard worker. Dengan catatan, kerja keras ini memang ada hasilnya dan bukan sekadar mencari uang lembur di kantor.

Namun, belakangan cara ini tak lagi populer. Apalagi di zaman serba hemat seperti saat ini. Menjadi hard worker yang identik dengan berada lebih lama di kantor dianggap tidak lagi efisien dan suatu pemborosan. Penambahan jam kerja, juga bisa membuat Anda dinilai tak punya manajemen kerja yang baik sehingga tak bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Kalau begitu keadaannya, sudah waktunya Anda mengubah cara kerja.

Be Smart Worker
Daripada menghabiskan seluruh waktu di kantor tapi malah dipandang negatif, mengapa tidak mencoba lebih efisien dan bekerja lebih smart? Dan, untuk menjadi smart worker tidak susah, kok. Anda hanya perlu bekerja sambil berpikir dan berprinsip, bagaimana agar pekerjaan bisa dikerjakan lebih cepat dan lebih fleksibel.

Kalau boleh sedikit membandingkan, sebagian besar negara Eropa dan Amerika sudah menerapkan prinsip smart worker ini. Contohnya, Italia yang sudah memberlakukan jam kerja rata-rata hanya 5 jam sehari. Asyik, kan? Selain punya lebih banyak waktu untuk menikmati hidup, Anda juga punya waktu jika ingin mencari penghasilan tambahan alias side job. Nah, untuk menjadi smart worker, Anda harus punya strategi kerja. Di antaranya:

1. Anda bisa memulainya dengan mencoba memusatkan perhatian pada pekerjaan. Kurangi hal-hal yang bisa mengalihkan perhatian, seperti ngobrol atau bergosip dengan rekan kerja terlalu lama (baik langsung, via telp atau sarana chatting), jauhkan katalog dan bahan bacaan pribadi dari wilayah kerja, dan lain sebagainya. Untuk hal-hal seperti itu, ada waktunya sendiri setelah jam kerja usai.

2. Hindari menunda-nunda pekerjaan dan cobalah mengerjakannya dengan sistem multitasking. Dengan cara ini, Anda bisa mengerjakan dua atau tiga tugas sekaligus sehingga bisa lebih menghemat waktu.

3. Untuk memudahkan, gunakan teknologi secara bijak. Misalnya, gunakan telepon dan internet seperlunya, apalagi jika pekerjaan Anda sedang menumpuk. Manfaatkan teknologi tersebut untuk mempercepat selesainya tugas-tugas Anda.

Dengan mengoptimalkan waktu kerja, Anda tak hanya menjadi lebih efisien tapi juga lebih produktif. Bukan mustahil dengan semakin sederhana kehidupan kerja dan semakin sedikit waktu kerja kita, semakin besar penghasilan yang kita peroleh.

(Ditulis oleh Erma Dwi Kusumastuti - dikutip dari Kompas edisi 5 Sept’08)

Tue 2nd Sep, 2008, Daily, healthy inside

Bike to work

Sudah satu minggu belakangan ini saya bersepeda ke kantor. Bermula dari acara "Festival Kemang" di sepanjang Jl. kemang raya yang saya kunjungi beberapa waktu lalu, kami (saya dan suami) tertarik dengan 1 outlet "Bike to work" (b2w). Akhirnya kami terlibat percakapan panjang lebar dengan team b2w disana. Cowok-cowok jawa itu seru-seru banget, orangnya kocak-kocak, asiklah pokoknya. Mereka juga ngerelain folding bike yang biasa mereka pake jadi sasaran percobaan kami. Mereka juga memamerkan satu halaman parkir yang disulap mendadak jadi "showroom" sepeda. Weeiiiiss… ternyata banyak modelnya, dari yang besar sampai yang kecil dengan spesifikasi yang berbeda… daaan.. jelas dengan harga yang berbeda pula *ngernyitin jidat pas tau harganya*. Oiya, kebetulan adik ipar saya juga berniat b2w, jadinya kami bertiga terlibat dalam persekongkolan b2w malam itu. Sepeda yang jadi incaran kami adalah ‘d — n’, folding bike, light banget and warnanya sooo colorful. Finally di rumah kami terlibat diskusi in bedtime. Entah terkesan dengan gerombolan cowok-cowok jawir seru itu, atau tertarik dengan warna/i sepeda d — n itu, atau tergerak hati untuk ikutan "go green" either komunitas b2w, akhirnya kita sepakat untuk gabung. Awalnya kami memutuskan suami yang duluan bersepeda. Tapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami memutuskan bahwa saya yang akan mulai bersepeda.

Alasannya, kantor saya lebih deketan.. halaah. Kedua, nggak sanggup beli sepeda langsung dua…hehhee… Ketiga, bersepeda dalam konteks menyehatkan paru-paru lebih dibutuhkan oleh saya daripada suami, at least untuk saat ini… hhmmm.. no explanation for this. Keempat, gak cuma nyehatin paru-paru juga sih, intinya saya emang jarang olahraga (kalo bisa disebut olahraga saya cuma jalan kaki dari rumah ke perdatam kira2 300 mtr pp setiap hari + olahraga "lain" di tempat tidur on a regular basis… wekekekek…), jadi dengan bersepeda setiap hari selama 20 menitan / kurang lebih 3 km paling enggak saya udah memenuhi nasehat para dokter untuk menjaga kesehatan dengan rutin berolahraga.

Sayangnya setelah cek sana sini, ternyata si d — n ini masih sulit dicari, lagipula harganya belum masuk budget kami. Sempat pesimis awalnya, tapi Alhamdulillah Allah kasih petunjuk bahwa ada folding bike merek lain yang lebih murah dengan kualitas sama. Jadilah fodling bike "u —- d" itu kami bawa pulang. Putih strip kuning, ditambah penambahan multi speed (standarnya hanya single speed) plus helmet. Harganya hanya 1/3 harga d — n, sebetulnya kalau suami mau bisa saja dia ambil juga. Tapi ternyata ia (dan adik ipar) saya itu sudah janjian mau siap nabung/cicil untuk (tetetuup) beli d — n.

Mulailah saya bersepeda ke kantor, nggak lewat jalur jalan raya ps.minggu/kalibata yang ramai, tapi lewat perdatam-komp.DPR yang lebih aman. Seru jugalah, enak juga ternyata. Lebih enak lagi kalau berangkat lebih pagi sekitar jam 7 karena selain udaranya lebih sejuk, belum banyak kendaraan (polusi-less) plus masih bisa liat kanan kiri/pemandangan sekitar. Liat-liat model rumah-rumah di sekitar perdatam yang bagus2, liat tukang jajanan disepanjang jalan (kalo tertarik, mampir beli buat di kantor) or sambil ngapalin tempat2 tambal ban (jaga-jaga kalo ban kempes.. hhhmm.. moga2 sih enggak), sambil nyari2 korwil b2w di daerah kalibata (sampai sekarang belum nemu-nemu). Ada aja pengalaman seru sepanjang jalan, yang didadahin sama cowok bersepeda juga (mungkin dia merasa sekomunitas, padahal saya belum sempat memakai atribut b2w…hehhee..). Sempat juga agak cemas ketika satu hari kudu pulang malam. Secara belum sempat pasang lampu sepeda. Atau lain harinya ketika hujan turun pas pulang kantor, belum sempat juga sedia jas hujan… halaahh…

Di kantor sepeda saya langsung dilipat, simpan di ruangan dekat meja kerja. Soalnya area parkir kantor saya lumayan semrawut, agak jorok and gak secure parking. Halaahh.. biarpun cuma sepeda, tapi kalo ilang diembat orang, rasanya nyesek jugalah. Lagipula, ngapain bela-belain beli folding bike kalo akhirnya nggak dilipet… heehhehee..

So, puasa ini break dulu. Takut dehidrasi. Lagian puasa kan wajib, bersepeda kan sunnah. Insya Allah nanti abis lebaran, mulai working by bike…..  

 

 

Fri 27th Jun, 2008, and friends, their career

eMang joDoh ?

r-U-M-a-h 

Ternyata bukan jodoh aja yang "emang jodoh", tapi rumah juga bisa jodoh-jodohan (kok kayak judul lagu dangdut ya..). Nggak tau kebetulan atau emang sudah diatur dari "sana", tiba-tiba beberapa hari lalu saya dan dua orang sahabat sma saya secara nggak sengaja+nggak direkayasa  dan nggak dinyana-nyana (halaaah) memutuskan untuk membeli (masih dalam proses) rumah tinggal/apartemen yang sama di kawasan jakarta selatan. Tapi berhubung emang beda rejeki (hehe.. bener ya kalo lagi gini saya jadi keliatan ‘kurangnya"..huahehauhe..), teman saya itu langsung mengambil 2 unit, yang satunya lagi 1 unit cash bertahap. Sementara saya, yang punya niat dan ide, hehe.. malahan cuma bisa ikut KPA subsidi untuk jangka waktu yang paling ujung alias 15 tahun sesuai dengan kemampuan…. *bengong, manyun*.. Nggak apa-apa deh, yang penting kita jadi tetanggaan ya, girls. Alhamdulillah dapet view lepas dan hadap timur, meskipun lumayan tinggi. Balik lagi ke topik semula "emang jodoh", saya jadi teringat komentar sohib-sohib saya itu ketika selesai PPJB : "Ya ampun Na, kita nih emang jodoh kali ya Na, emang rejekinya ya, kok bisa-bisanya sih ya jadi samaan gini beli rumahnya. padahal gue tuh udah lama hunting rumah nggak pernah cocok, giliran elo kasih tau, langsung aja ngikut, untung tadi elo tek-in kita ya, Na.."..hehe.. emang racun deh nih saya… *tapi gue racun yang baik kan, girls…? Setelah melihat show unit (ngences liat interiornya..sluurpp!!), kami langsung berandai-andai menghabiskan masa tua (barengan lagi) di apartemen itu… halaahh…

j-o-b-s 

Kerjaan ternyata juga jodoh-jodohan. Seperti ex teman kantor saya yang sudah resign dari sini. Sebelum resign dia sempat meminta pendapat saya tentang keputusannya. Sementara teman lain menyarankan untuk stay sambil menunggu dapat pekerjaan baru, saya dengan spontan malah langusng mendukung langkah resignnya. Saya hanya bilang : " Kalau saya jadi kamu, saya resign sekarang. Nggak usah mikirin ada cicilan kredit/tabungan rencana (karena dia sempat worried dengan yang ini), go ahead aja, Bismillah. Kalau kamu keluar kamu akan lebih fokus dan leluasa untuk cari pekerjaan baru. Percaya deh, rejeki nggak kemana, kalo udah jodoh pasti dapet..". Alhamdulillah dalam waktu kurang dari 2 bulan dia sudah diterima bekerja. Dan siang ini saya mendapat email darinya bahwa sekarang dia malah sudah mendapat pekerjaan baru lagi sebagai Sekretaris Redaksi di salah satu grup majalah wanita ternama di ibukota..*wink, go Dis*. Andaikata dia tetap memutuskan stay, hehehe…